Archive for the ‘Film’ Category

h1

In Memoriam Roger Ebert

April 5, 2013

In Memoriam Roger Ebert (1942-2013)

Among movie fans and reviewers, you will be greatly missed.

To quote the obituary from his website:

Roger Ebert loved movies.

Except for those he hated.

So long Mr. Ebert.

Roger Ebert (extract) by Roger Ebert.jpg

Advertisements
h1

Life of Pi

December 19, 2012

Kukira, Avatar sudah menjadi pencapaian tertinggi sinematografi 3D. Ternyata aku salah. Life of Pi, di luar dugaan mampu melewati pencapaian Avatar lewat kejeniusan Ang Lee. Mungkin ini juga memang tidak terlalu aneh, karena Life of Pi, dengan aura surealis, semula dikira tidak akan bisa diadaptasi dalam bentuk film. Dengan bantuan teknologi, dan ditambah dengan sesuatu yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi, yaitu otak manusia, Life of Pi telah menaikkan benchmark pencapaian film 3D.

Di satu pihak, Ang Lee diuntungkan karena Life of Pi, sebagai sebuah buku, adalah sebuah buku yang luar biasa. Namun di pihak lain, ini malah menjadi sebuah beban yang sangat berat bagi Ang Lee, yaitu bagaimana menuangkan buku ini dalam kanvas film, dengan segala kesulitannya. Teknologi memang ada di pihak Ang Lee, namun bagaimana pun yang paling penting adalah manusia di belakangnya.

Beberapa adegan yang patut diacungi jempol:

1. Opening. Penggambaran kebun binatang kecil di Pondicherry sungguh luar biasa. Begitu berwarna, dan angle-nya menarik.

2. Adegan Mamaji berenang di kolam renang. Ang Lee mem-blend warna air dan langit, dan hasilnya luar biasa. Adegan manusia berenang di awan, surealis. Jenius.

3. Adegan ubur2 berpendar dan ikan terbang. Pemanfaatan 3D-nya luar biasa.

4. Adegan Pi yang separoh mabok dan berhalusinasi. Sewaktu ia memandang kedalaman laut dan melihat banyak binatang di dalamnya. Sekali lagi, surealis.

5. Tentu saja, adegan meerkat. Dengan pulau hidup, yang kalau dilihat dari jauh berbentuk manusia yang sedang tidur.

6. Last but not least, sebuah caption shot yang dibuat mirip dengan sampul buku Life of Pi (lihat gambar di kiri) Sebuah sekoci, dengan Pi dan Richard Parker yang terbaring kuyu, di shoot vertikal dari atas 90 derajat. Wow! Adegan yang begitu sederhana, tapi begitu bermakna.

 

 

Dan ini shot dari filmnya:

Saya termasuk orang yang membenci film2 seperti disaster-porn seperti 2012 dan action-porn seperti Transformers. Visual efek memang menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari film saat ini, tapi bagian yang terpenting dari sebuah film adalah CERITA, CERITA dan CERITA! Tanpa sebuah cerita yang baik, semua visual efek akan menjadi sampah tontonan. Beberapa sutradara mampu menggunakan efek 3D dengan baik. Contohnya adalah James Cameron dengan Avatar-nya. Lalu Martin Scorsese dengan Hugo-nya. Dan kini Ang Lee, lewat Life of Pi yang melewati semuanya. Yang menarik dari Ang Lee, ia tidak mengumbar spesial efek. Ia menggunakannya dengan porsi yang pas. Salah satu contoh film yang mengumbar spesial efek dan gagal adalah The Immortals-nya Tarsem Singh, yang gagal mengulangi keberhasilan visual efek dalam The Fall.

Tidak mudah memang menerjemahkan sebuah novel filosofis seperti Life of Pi ke dalam bahasa gambar. Dialog-dialog internal dan panjang mau tidak mau hilang terpotong. Di sinilah butuh kejelian penulis skrip dan sutradara untuk memilah mana yang diambil dan mana yang dibuang, dan bila perlu mana yang ditambahkan dari buku asli. Namun harus diakui, film ini memang menjadi “kurang filosofis” dibandingkan bukunya. Tapi mungkin ini menang tidak bisa dihindari. Dan Ang Lee serta timnya telah berbuat lebih dari cukup.

Sebagai hasilnya, sebuah film yang nyaris sempurna. Calon OSCAR, saingan dengan Argo, yang sayangnya belum saya tonton.

Verdict: 4.5/5

h1

Official Trailer World War Z is ONLINE!

November 23, 2012

Ini trailernya:

Bagi yang belum tahu ini film apa, film ini dibuat berdasarkan buku World War Z, karangan Max Brooks. Reviewnya silahkan lihat di sini.

Saya selaku fans berat bukunya, terus terang kecewa berat dengan trailer pertamanya. Dari gosip yang beredar di Internet sejak lama, saya memang sudah tahu kalau filmnya bakal menyimpang jauh dari buku. Saya bukan seorang purist, yang memaksa film harus persis sama dengan buku. Film adaptasi buku adalah sebuah produk turunan yang tidak harus sama persis, karena mediumnya memang berbeda. Banyak contoh film sukses walaupun tidak sama persis dengan buku (meskipun lebih banyak lagi contoh film gagal karena menyimpang dari buku).

Contohnya adalah film Pintu Terlarang. Harus diakui filmnya tidak sama dengan bukunya, tapi menurutku jauh filmnya luar biasa bagus, apalagi untuk film Indonesia, tidak kalah sama Shutter Island-nya Martin Scorsese. Begitu pula dengan Trilogi Lords of The Ring yang tidak sama persis dengan bukunya, dan harus kita akui filmnya luar biasa!

Tapi dilihat dari trailernya, film World War Z ini, bukan saja beda jauh sama bukunya, semangatnya pun jauh berbeda.

1. Zombie dalam film ini adalah running zombie (bahkan bukan saja berlari, larinya luar biasa cepat sehingga menjadi superzombie). Memang di dunia per-zombie-an ada perdebatan alot mengenai apakah zombie seharusnya “berjalan” (walking zombie) atau “berlari” (running zombie). Dalam hal ini saya juga bukan seorang purist yang membela salah satu pihak. Walking zombie bisa menjadi sebuah film zombie yang bagus seperti The Walking Dead. Running zombie juga bisa menjadi sebuah film bagus seperti 28 Days Later (ada perdebatan juga mengenai apakah “makhluk” dalam film ini bisa dikategorikan zombie atau tidak, tapi saya tidak akan membahas hal itu di sini).
Pada intinya, harus ada konsistensi. Ceritanya harus konsisten, entah zombie-nya mau jalan, lari, atau ngesot! Nah, di sinilah letak masalahnya. Seluruh buku World War Z itu dibangun berdasarkan asumsi kalau zombie-nya jalan, bukan lari, apalagi lari dengan kecepatan super seperti yang terlihat di trailernya. Kalau zombie-nya saja diganti, otomatis seluruh film itu akan kehilangan rohnya.

2. Ada beberapa adegan di buku yang sangat luar biasa sehingga fansnya sangat berharap adegan tersebut akan ada di film tersebut. Dengan melihat trailernya, hampir pasti adegan itu tidak akan ada. Salah satunya adalah The Battle of Yonkers, yang adalah pertempuran besar pertama antara manusia (baca: Angkatan Bersenjata Amerika) vs Zombie, dengan hasil manusia kalah besar walaupun dengan berbekal senjata canggih, bom dan pesawat tempur. Semuanya karena mereka mengira perang melawan zombie sama dengan perang melawan manusia!

3. Yang menjadi sentral dalam buku World War Z adalah manusia! Bukan zombie. Buku itu memperlihatkan bagaimana tidak siapnya kita menghadapi krisis global. Ini tidak berlaku hanya untuk zombie, tapi bisa digantikan dengan wabah flu, global warming, krisis keuangan, dll. Tidak perlu zombie super untuk menguasai dunia, cukup zombie lamban ditambah dengan ketidaksiapan manusia!

Kesimpulan, para fans World War Z, siap-siap KECEWA!

h1

Jakarta Hati

November 16, 2012

Sebuah omnibus kembali dihadirkan oleh Salman Aristo, menyusul Jakarta Maghrib. Tajuknya adalah Jakarta Hati; sesuai dengan taglinenya: di sini jantung ibukota, di mana hatinya?

Premis yang ditawarkan sungguh menarik. Di mana letak hati Jakarta? Atau apakah Jakarta punya hati?

Mau tidak mau saya harus membandingkannya dengan Jakarta Maghrib, yang disatukan oleh suasana Jakarta di saat Maghrib. Benang merahnya lebih gampang dicari, yaitu suasana temaram menjelang maghrib. Dan kalau Anda lebih jeli, keseluruhan adegan dilakukan di lokasi yang berdekatan, yaitu sekitar Rawamangun.

Film Jakarta Hati lebih sulit. Lokasi penyatunya tidak terlihat jelas, kecuali Jakarta tentu saja. Konsep Hati juga lebih abstrak daripada Maghrib. Kupikir di sini Salman Aristo mencoba menunjukkan beberapa aspek dari Hati itu sendiri dengan memakai Jakarta sebagai lokus.

Beberapa cerita di dalamnya kupikir cukup nendang, dan yang lainnya agak hambar.

1. Yang paling OK menurutku adalah kisah seorang penulis “gagal” yang harus berjuang mempertahankan “hati” nuraninya melawan kapitalisme pasar yang menuntutnya membuat karya2 sampah yang laku di pasaran. Di lain pihak dia berhadapan dengan dompetnya yang semakin tipis dan anaknya yang ingin membeli hadiah untuk ulang tahun temannya. Hati dan otaknya terkoyak, dan semuanya diakhiri dengan sebuah ending yang manis.

2. Adegan di kantor polisi dimana seorang polisi muda idealis dengan “hati”, juga harus terkoyak saat ia harus membuat BAP bapaknya sendiri, yang telah meninggalkan ia dan ibunya sejak lama. Dan ia kembali diguncang dengan sebuah permintaan pribadi dari ayahnya.

3. Cerita anggota DPR juga cukup menarik. Di mana seorang anggota DPR harus berjuang untuk menemukan “hatinya” kembali, di dalam pusaran permainan kotor teman2nya.

4. Pembuka omnibus ini juga patuh diacungi jempol. Walaupun menurutku ceritanya bukan yang terbaik, namun cukup menarik perhatiaan penonton, paling tidak untuk tetap mengikuti jalan cerita film ini sampai selesai.

Yang agak lemah adalah dua cerita lainnya:

1. Adegan di dalam gelap. Yang ditawarkan sebenarnya cukup menarik. Hiruk pikuknya Jakarta bisa dihentikan dengan padamnya listrik, dan mereka kembali menemukannya hatinya. Sayang tema yang diceritakan terlalu berhimpit dengan cerita pembuka.

2. Cerita terakhir, tentang kisah cinta antara janda pedagang kue subuh dengan seorang anak muda. Dengan cerita ini, berarti ada 3 cerita yang mengartikan hati sebagai cinta, dan ini kupikir terlalu banyak. Di lain pihak Salman Aristo ingin menampilkan konflik yang agak lain dengan memasukkan cinta berbeda usia dan juga etnis, namun kupikir terlalu dipaksakan. Bung Salman, Anda sudah cukup jago, gak usah ikut2an temanya Hanung, OK… Jadi menurutku cerita terakhir ini terlalu berbau Hanung, dan justru titik paling lemah dari seluruh omnibus.

Andaikan film ini bisa menampilkan sebuah benang merah yang menghubungkan semua kisahnya. Misalnya cerita sang penulis gagal dengan mainan anaknya bisa dihubungkan dengan cerita polisi yang juga ada kaitannya dengan mainan. Cerita pasangan yang pertama bisa dihubungkan dengan pasangan dalam lampu yang padam. Cerita kue yang terakhir bisa dihubungkan dengan ulang tahun. Sehingga seluruh omnibus terangkai menjadi sebuah kisah yang utuh. Kalau tidak, hampir sama dengan menonton kumpulan cerita pendek saja.

Verdict: 3.5/5

h1

Film Komedi Indonesia 2: Madame X

November 16, 2010

Aku sebenarnya berharap banyak dari film ini. Pertama, film ini lahir dari PH Kalyana Shira yang selama ini belum pernah mengecewakanku. Lihat saja film2 keluaran mereka yang gila seperti Quickie Express. Begitu pula film seperti Janji Joni, Arisan, dan Berbagi Suami. Semuanya tidak ada yang mengecewakan. Jadi paling tidak aku mengharapkan film komedi sekelas Quickie Express, dan rada2 saru gitu. Kedua, film2 Kalyana Shira selalu mengusung ide-ide maju yang menarik untuk disimak. Sayangnya, harapanku ternyata berlebihan. Ini adalah film terburuk dari Kalyana Shira.

Ide film ini sebenarnya cukup menarik, begitu pula tema yang diusungnya. Ia mengangkat kaum minoritas yaitu kaum transgender yang sering dianggap sampah masyarakat sehingga harus disingkirkan. Film ini temanya terasa menggigit di tengah maraknya fundamentalisme ingin memaksakan pandangan satu agama kepada seluruh sendi kehidupan. Read the rest of this entry ?

h1

Film Komedi Indonesia 1: Laskar Pemimpi

November 15, 2010

Belakangan saya agak jarang nonton film, dan jarang nulis juga. Karena pasokan film lagi seret dan lagi sibuk juga. Jadinya lebih banyak nonton di DVD saja. Dalam masa2 ini sebenarnya ada beberapa film yang saya tonton juga sebetulnya dan akan saya review dalam seri tulisan ini.

Film ini adalah sebuah film yang unik, yang terus terang tidak begitu terlihat dari iklannya. Karena melihat Project Pop kita tentunya akan mengira bahwa film ini adalah sebuah film komedi parodi. Yang tidak saya duga, film ini ternyata juga adalah sebuah film musikal, yang merupakan salah satu core competence dari Project Pop juga. Dan ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan.

Film ini adalah sebuah film parodi komedi dari kisah perjuangan seputar Agresi Militer II Belanda sekitar bulan Desember 1928, dan diakhiri dengan klimaks Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Film ini tidak berpretensi ambisius seperti serial MERAH PUTIH, yang ingin membuat film perjuangan yang membara (dan gagal besar menurut saya). Film ini hanya ingin menghibur, itu saja, dan mereka berhasil dengan sukses menghibur saya. Read the rest of this entry ?

h1

A Frozen Flower, A Gay Movie

October 22, 2010

Aku menonton film ini tanpa tahu menahu apa isi film ini kecuali dari posternya saja. Kupikir film perang biasa. Ternyata film cerita keluarga kerajaan korea yang dibalut kisah cinta homoseksual. Mati terkejutlah aku!

Film ini dibuka dengan sebuah rekrutmen pasukan khusus pengawal raja yang diambil sejak anak-anak, Hati kecilku mendambakan sebuah film action silat yang dahsyat seperti halnya film 14 Blades -nya Donnie Yen.

Berhubung film ini kunikmati setelah melaluiĀ  sensor LSF, aku baru tahu bahwa sang tokoh gay setelah jauh di tengah film, meskipun aku sudah mulai menebak2 di adegan2 awal karena sorotan matanya. Read the rest of this entry ?

h1

A Barefoot Dream, Slumdog dari Timor Leste

October 20, 2010

Cukup aneh sebetulnya film ini kurang mendapat sambutan meriah di Indonesia. Mungkin karena ia hanya diputar secara terbatas di jaringan Blitz Megaplex.

Film ini bercerita tentang mimpi anak2 Timor Leste menjadi pemain sepakbola profesional, lewat hati emas seorang pelatih dari Korea Selatan. Yang menarik adalah sang pelatih sebenarnya adalah seorang looser yang sebenarnya sampai ke Timor Leste karena mencob menjadi oportunis di sebuah negara yang baru berdiri, yang bermimpi memonopoli toko alat olah raga di Dili, Timor Leste.

Tema film tentang perjalanan seseorang dari zero-to-hero mungkin bukan barang baru. Tapi harus kuakui sang sutradara bisa memindahkan kisah nyata sang pelatih asal Korea tersebut, Kim Shin-hwan ke dalam layar lebar. Emosinya sangat terasa, dan ini didukung oleh akting alamiah anak2 yang menjadi pemain bola di dalam film ini. Read the rest of this entry ?

h1

Hello Stranger

September 17, 2010

What is the hottest movie in town? Kemungkinan besar adalah film ini. Sayang peredarannya terbatas hanya di jaringan Blitz. Penontonnya pun gak sembludak antrian Harry Potter, atau Ketika Cinta Bertasbih. Tapi percayalah, kemungkinan ini adalah film terbaik yang bisa anda tonton tahun ini.

Film ini dimulai dengan cukup sederhana yaitu bertemunya dua orang sebangsa (Thailand) di negeri orang (Korea), dan memulai permainan gila mereka untuk saling tidak memperkenalkan nama, supaya mereka bisa gila2an tanpa batas tanpa dikenal. Dari situlah bermula petualangan mereka yang berakhir dengan sebuah ending yang menurutku sempurna (tidak akan kuceritakan di sini, silakan nonton sendiri, saya tidak ingin merusak kejutan yang bisa anda nikmati). Read the rest of this entry ?

h1

Religulous, Ridiculous

August 20, 2010

Di tengah maraknya gerakan fundamentalisme agama di seluruh dunia, mungkin film ini layak disimak. Film ini adalah sebuah film dokumenter yang dibuat seorang pelawak ateis, Bill Maher. Di dalam film ini ia ingin menunjukkan betapa “lucunya” manusia yang masih mempercayai agama yang menurutnya merupakan produk ketinggalan jaman, dan harus ditinggalkan kalau manusia ingin maju.

Pertama perlu diingat, film ini adalah sebuah film komedi, walaupun tema yang diangkap adalah sebuah tema yang serius. Karena pendekatannya yang komedi, kita jangan berharap di dalamnya ada dialog-dialog cerdas yang memakai logika yang ketat. Yang dingin ditunjukkan oleh Bill Maher hanyalah fakta-fakta yang membuat orang menertawakan agama.

Maher memang sukses “mempermalukan” agama dengan menunjukkan beberapa personalitas dari agama Mormon, Scientologi, Kristen Fundamentalis, agama Cannabis yang menghisap ganja sebagai ibadah, dan bahkan orang yang mengaku Yesus. Read the rest of this entry ?