h1

Jakarta Hati

November 16, 2012

Sebuah omnibus kembali dihadirkan oleh Salman Aristo, menyusul Jakarta Maghrib. Tajuknya adalah Jakarta Hati; sesuai dengan taglinenya: di sini jantung ibukota, di mana hatinya?

Premis yang ditawarkan sungguh menarik. Di mana letak hati Jakarta? Atau apakah Jakarta punya hati?

Mau tidak mau saya harus membandingkannya dengan Jakarta Maghrib, yang disatukan oleh suasana Jakarta di saat Maghrib. Benang merahnya lebih gampang dicari, yaitu suasana temaram menjelang maghrib. Dan kalau Anda lebih jeli, keseluruhan adegan dilakukan di lokasi yang berdekatan, yaitu sekitar Rawamangun.

Film Jakarta Hati lebih sulit. Lokasi penyatunya tidak terlihat jelas, kecuali Jakarta tentu saja. Konsep Hati juga lebih abstrak daripada Maghrib. Kupikir di sini Salman Aristo mencoba menunjukkan beberapa aspek dari Hati itu sendiri dengan memakai Jakarta sebagai lokus.

Beberapa cerita di dalamnya kupikir cukup nendang, dan yang lainnya agak hambar.

1. Yang paling OK menurutku adalah kisah seorang penulis “gagal” yang harus berjuang mempertahankan “hati” nuraninya melawan kapitalisme pasar yang menuntutnya membuat karya2 sampah yang laku di pasaran. Di lain pihak dia berhadapan dengan dompetnya yang semakin tipis dan anaknya yang ingin membeli hadiah untuk ulang tahun temannya. Hati dan otaknya terkoyak, dan semuanya diakhiri dengan sebuah ending yang manis.

2. Adegan di kantor polisi dimana seorang polisi muda idealis dengan “hati”, juga harus terkoyak saat ia harus membuat BAP bapaknya sendiri, yang telah meninggalkan ia dan ibunya sejak lama. Dan ia kembali diguncang dengan sebuah permintaan pribadi dari ayahnya.

3. Cerita anggota DPR juga cukup menarik. Di mana seorang anggota DPR harus berjuang untuk menemukan “hatinya” kembali, di dalam pusaran permainan kotor teman2nya.

4. Pembuka omnibus ini juga patuh diacungi jempol. Walaupun menurutku ceritanya bukan yang terbaik, namun cukup menarik perhatiaan penonton, paling tidak untuk tetap mengikuti jalan cerita film ini sampai selesai.

Yang agak lemah adalah dua cerita lainnya:

1. Adegan di dalam gelap. Yang ditawarkan sebenarnya cukup menarik. Hiruk pikuknya Jakarta bisa dihentikan dengan padamnya listrik, dan mereka kembali menemukannya hatinya. Sayang tema yang diceritakan terlalu berhimpit dengan cerita pembuka.

2. Cerita terakhir, tentang kisah cinta antara janda pedagang kue subuh dengan seorang anak muda. Dengan cerita ini, berarti ada 3 cerita yang mengartikan hati sebagai cinta, dan ini kupikir terlalu banyak. Di lain pihak Salman Aristo ingin menampilkan konflik yang agak lain dengan memasukkan cinta berbeda usia dan juga etnis, namun kupikir terlalu dipaksakan. Bung Salman, Anda sudah cukup jago, gak usah ikut2an temanya Hanung, OK… Jadi menurutku cerita terakhir ini terlalu berbau Hanung, dan justru titik paling lemah dari seluruh omnibus.

Andaikan film ini bisa menampilkan sebuah benang merah yang menghubungkan semua kisahnya. Misalnya cerita sang penulis gagal dengan mainan anaknya bisa dihubungkan dengan cerita polisi yang juga ada kaitannya dengan mainan. Cerita pasangan yang pertama bisa dihubungkan dengan pasangan dalam lampu yang padam. Cerita kue yang terakhir bisa dihubungkan dengan ulang tahun. Sehingga seluruh omnibus terangkai menjadi sebuah kisah yang utuh. Kalau tidak, hampir sama dengan menonton kumpulan cerita pendek saja.

Verdict: 3.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: