h1

Life of Pi

December 19, 2012

Kukira, Avatar sudah menjadi pencapaian tertinggi sinematografi 3D. Ternyata aku salah. Life of Pi, di luar dugaan mampu melewati pencapaian Avatar lewat kejeniusan Ang Lee. Mungkin ini juga memang tidak terlalu aneh, karena Life of Pi, dengan aura surealis, semula dikira tidak akan bisa diadaptasi dalam bentuk film. Dengan bantuan teknologi, dan ditambah dengan sesuatu yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi, yaitu otak manusia, Life of Pi telah menaikkan benchmark pencapaian film 3D.

Di satu pihak, Ang Lee diuntungkan karena Life of Pi, sebagai sebuah buku, adalah sebuah buku yang luar biasa. Namun di pihak lain, ini malah menjadi sebuah beban yang sangat berat bagi Ang Lee, yaitu bagaimana menuangkan buku ini dalam kanvas film, dengan segala kesulitannya. Teknologi memang ada di pihak Ang Lee, namun bagaimana pun yang paling penting adalah manusia di belakangnya.

Beberapa adegan yang patut diacungi jempol:

1. Opening. Penggambaran kebun binatang kecil di Pondicherry sungguh luar biasa. Begitu berwarna, dan angle-nya menarik.

2. Adegan Mamaji berenang di kolam renang. Ang Lee mem-blend warna air dan langit, dan hasilnya luar biasa. Adegan manusia berenang di awan, surealis. Jenius.

3. Adegan ubur2 berpendar dan ikan terbang. Pemanfaatan 3D-nya luar biasa.

4. Adegan Pi yang separoh mabok dan berhalusinasi. Sewaktu ia memandang kedalaman laut dan melihat banyak binatang di dalamnya. Sekali lagi, surealis.

5. Tentu saja, adegan meerkat. Dengan pulau hidup, yang kalau dilihat dari jauh berbentuk manusia yang sedang tidur.

6. Last but not least, sebuah caption shot yang dibuat mirip dengan sampul buku Life of Pi (lihat gambar di kiri) Sebuah sekoci, dengan Pi dan Richard Parker yang terbaring kuyu, di shoot vertikal dari atas 90 derajat. Wow! Adegan yang begitu sederhana, tapi begitu bermakna.

 

 

Dan ini shot dari filmnya:

Saya termasuk orang yang membenci film2 seperti disaster-porn seperti 2012 dan action-porn seperti Transformers. Visual efek memang menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari film saat ini, tapi bagian yang terpenting dari sebuah film adalah CERITA, CERITA dan CERITA! Tanpa sebuah cerita yang baik, semua visual efek akan menjadi sampah tontonan. Beberapa sutradara mampu menggunakan efek 3D dengan baik. Contohnya adalah James Cameron dengan Avatar-nya. Lalu Martin Scorsese dengan Hugo-nya. Dan kini Ang Lee, lewat Life of Pi yang melewati semuanya. Yang menarik dari Ang Lee, ia tidak mengumbar spesial efek. Ia menggunakannya dengan porsi yang pas. Salah satu contoh film yang mengumbar spesial efek dan gagal adalah The Immortals-nya Tarsem Singh, yang gagal mengulangi keberhasilan visual efek dalam The Fall.

Tidak mudah memang menerjemahkan sebuah novel filosofis seperti Life of Pi ke dalam bahasa gambar. Dialog-dialog internal dan panjang mau tidak mau hilang terpotong. Di sinilah butuh kejelian penulis skrip dan sutradara untuk memilah mana yang diambil dan mana yang dibuang, dan bila perlu mana yang ditambahkan dari buku asli. Namun harus diakui, film ini memang menjadi “kurang filosofis” dibandingkan bukunya. Tapi mungkin ini menang tidak bisa dihindari. Dan Ang Lee serta timnya telah berbuat lebih dari cukup.

Sebagai hasilnya, sebuah film yang nyaris sempurna. Calon OSCAR, saingan dengan Argo, yang sayangnya belum saya tonton.

Verdict: 4.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: