Posts Tagged ‘laskar pelangi’

h1

Melihat Laskar Pelangi

October 6, 2008

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Film yang paling diantisipasi tahun ini memenuhi bioskop di seluruh nusantara disertai dengan antrian panjang, mengulang kesuksesan bukunya. Karena penasaran dan tidak ingin ketinggalan, kutonton juga film ini meskipun hanya di bioskop sebelah rumah yang hanya 10ribu tiketnya yang AC-nya sudah tidak dingin lagi.

Film ini dibuka dengan adegan yang cukup menarik, adegan orang masuk kerja di PN Timah yang disertai dengan suara sirene yang pasti sudah menjadi pengalaman biasa orang yang tinggal di bumi Belitung (aku menolak menggunakan kata Belitong karena bukan istilah geografis standar dalam pergaulan ilmiah, biarlah kata Belitong menjadi bahasa lisan saja di lidah orang Belitung, tidak perlu dibakukan menjadi bahasa tulisan). Adegan pun lalu berpindah ke tempat fokus film ini, yaitu SD Muhammadiyah Gantung (aku juga menolak memakai kata Gantong dalam bahasa tulisan). Bergulirlah dengan demikian film ini.

Sebagai seorang yang besar di Belitung, terus terang aku melihat bahwa film ini gagal meng-capture suasana di Belitung. RIri Riza terlalu fokus di dialog seperti dalam penceritaan bukunya, namun gagal mengeksploitasi secara maksimal bahasa gambar. Ia hanya memakai bahasa gambar itu dengan kuat di scene pertama, selebihnya kedodoran. Read the rest of this entry ?

Advertisements
h1

Menanti Laskar Pelangi

September 22, 2008

Film ini adalah film yang paling dinantikan dalam waktu dekat ini. Besar kemungkinan ia akan sukses di pasaran, mengingat novel yang menjadi dasar ceritanya laku keras.

Sebenarnya posisi saya tidak terlalu enak dalam mereview film ini. Ini karena saya memiliki kepentingan, karena film ini mau tidak mau mempromosikan tanah kelahiran saya, Pulau Belitung. Jadi orang tentunya bisa melihat bahwa review saya bisa jadi bias. Namun bagaimana pun saya akan mencoba mereview film ini seobjektif mungkin.

Film ini menurut saya akan menjadi “The Dark Knight”-nya film Indonesia. Ia akan over-rated, terutama sekali karena bukunya yang meledak. Orang Indonesia cenderung menilai sebuah film dari bukunya, tidak melihatnya sebagai sebuah karya yang lepas.┬áHal seperti ini biasaya tidak terjadi di Hollywood. Contohnya Da Vinci Code yang meledak di pasaran buku namun filmnya disambut dingin. Tapi kalau di Indonesia saya rasa masih terjadi. Read the rest of this entry ?