h1

Matah Ati, From Solo for Indonesia

June 26, 2012

Blog ini sudah saya anggurin bertahun rasanya karena bosan ngeblog. Mudah2an bisa semangat ngeblog lagi.

Posting pertama setelah puasa lama adalah sebuah review pertunjukan sendratari Matah Ati, sebuah lakon dengan latar belakang Raden Mas Said, atau yang lebih dikenal dengan Mangkunegara I, raja pertama dari trah Mangkunegaran. Matah Ati adalah permaisurinya, yang adalah seorang rakyat jelata, walaupun ada darah bangsawan dari turunan Sultan Agung. Matah Ati ini menjadi partner sang pangeran dalam pertempuran melawan Belanda, serta menjadi pemimpin pasukan khusus perempuan, sesuatu yang luar biasa, baik di zaman itu maupun di zaman sekarang.

Aku sendiri bukan seorang ahli seni, apalagi seni sendratari, oleh karena itu, review ini hanyalah review dari seorang penikmat saja. Perkenalanku dengan sendratari juga belum dalam, sekadar pernah menonton sendratari Ramayana di Prambanan. Sejak itu aku terkesan sekali untuk menonton sendratari kembali, jika ada kesempatan. Bagi yang belum pernah nonton sendratari, percayalah, nonton sendratari secara langsung itu berbeda sekali dengan menonton lewat layar kaca. Auranya berasa sekali kalau nonton langsung, apalagi kalau dari dekat.

Singkat cerita begitu Matah Ati digelar di TIM untuk kedua kalinya (yang pertama dulu gak kebagian tiket) langsung saja saya menuju ke TKP. Pertunjukan dimulai tepat waktu (ngaret sepuluh menit sih, tapi untuk ukuran Indonesia sih cincailah).

Pertama, sendratari ini dibuka dengan prolog yang sangat kuat dan spektakuler. Saking kuatnya, aku malah merasa kalau endingnya tidak sekuat prolognya. Kemegahan sebuah gelar pasukan diperagakan dengan teatrikal lewat tarian. Begitu pula dengan lighting adegan awal yang benar-benar bisa menghadirkan suasana subuh sampai matahari terbit. Jempol buat lightingnya.

Kedua, soal tata panggung. Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa panggung sendratari ini dibuat miring sekitar 15 derajat. Ini memungkinkan penonton melihat adegan di bagian belakang panggung secara lebih jelas dan memberi kesan bird eye view. Keren, tapi memberikan kesulitan tersendiri pada penari, khususnya pada adegan berjalan jongkong menuruni panggung. Kebayang gak sulitnya jalan jongkong turun tanpa tertungging? Jempol buat Jay Subiakto.

Ketiga, tata musiknya. Ini adalah salah satu bagian terbaik dari sendratari ini. Musikalitasnya memadukan tembang Jawa, musik mars pada adegan perang dengan drum dan terompet, bahkan choir dengan bahasa Jawa. Keren abis. Ditambah lagi dengan suara sopran penari utama perempuan yang luar biasa dan bikin merinding. Jempol buat Pak Blacius.

Keempat, penarinya. Saya terutama terkesan dengan penari utama pria. Gerakannya gagah, kuat namun lentur. Adegan yang paling berkesan adalah adegan sewaktu ia bertapa sambil menggeram dengan suara bass. Gak tau itu pake efek suara atau tidak, tapi suara bassnya benar-benar membikin merinding. Jempol untuk Mas Fajar Satriadi.

Kelima, ceritanya. Memang kisah ini belum sebanding dengan kisah epik seperti Ramayana dan Mahabarata. Tetapi sebagai sebuah khasanah asli bangsa Indonesia, tentunya perlu mendapat apresiasi tersendiri. Saya berikan penghargaan sebesar2nya kepada Ibu Atilah Soeryadjaya yang telah berkenan membagikan warisan Kraton Mangkunegaran untuk Indonesia

Di tengah cerita, ada sebuah adegan intermezo dengan empat orang simbok yang melawak ibarat punakawan dalan pakem wayang. Dialognya dibawakan dalam bahasa Indonesia (berlawanan dengan seluruh sendratari yang dibawakan dalam bahasa Jawa halus, yang bahkan orang Jawa sekalipun sulit menangkapnya) sehingga bisa dipahami oleh penonton. Adegan ini mendapat sambutan meriah dari penonton dengan gelak tawa dan tepuk tangan. Dan pada gelar pemain di penghujung acara, keempat simbok ini mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Lumayanlah buat selingan.

Bravo untuk seluruh tim yang telah mementaskan Matah Ati. Kapan lagi ya ada sendratari lain yang bisa ditonton.

Artistik: 4.5/5
Cerita:   3.5/5
Tarian:   4/5
Musik:   4.5/5
Total:     4/5

Website resmi: http://www.matah-ati.com/
Facebook: https://www.facebook.com/matah.ati.theplay

Youtubenya bisa dilihat di sini:

3 comments

  1. oh… dari sini toh status tiji tibeh kemarin?
    jadi pengen nyobain nonton sendra tari juga


  2. 4 simbok itu klo g slh namanya ”sagita”, penambahan adegan tsb pd pementasan Matah Ati di Solo lebih memberikan kesan yg tdk membosankan serta lbh menerangkan (atau sbg prolog) dlm cerita tsb. Tapi over all salut kpd semua yg terlibat pd pementasan tsb, shg memberikan suatu nilai yg positif bagi masyarakat solo itu sendiri, dgn tdk melupakan warisan sejarah.. -Tiji Tibeh-



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: