h1

The Pacific, Bukan Band of Brothers

July 12, 2010

Film ini adalah mini seri HBO yang telah dirilis di TV kabel dan DVD bajakan. Seri ini mendapat sambutan yang beragam. Ada yang memujinya, namun tak kurang banyak yang mencercanya, dan saya termasuk barisan yang mencercanya.

Semangat saya terus terang membara begitu mendengar seri ini akan diluncurkan. Kita sudah tahu tim yang membuatnya adalah tim “Saving Private Ryan” dan tentu saja tim yang juga membuat serial fenomenal “Band of Brothers”. Dua nama dibelakangnya yaitu Tom Hanks dan Stephen Spielberg, walaupun hanya berperan sebagai produser sudah menjadi semacam jaminan mutu.

Sayangnya aku kecewa setelah menggebu2 menanti seri ini. Karakter yang mendalam baik dari para perwira maupun prajurit, bahkan dari musuh2 mereka yaitu tentara2 Jerman begitu mendalam. Ini semua hilang dalam seri baru ini. Masing2 karakter mendapatkan porsi yang tidak berkesinambungan dari seri ke seri sehingga kita sulit untuk mengikutinya dan membangun emosi dengan tokoh2nya.

Secara teknis, film ini memang sangat mirip dengan saudara tuanya, Saving Private Ryan dan Band of Brothers. Namun ternyata jeroannya berbeda. Hal yang paling membedakan adalah ceritanya sendiri. Band of Brothers dibuat berdasarkan buku yang ditulis sejarawan Stephen E. Ambrose dengan judul yang sama. Ini membuat ada semacam kesinambungan cerita. Lain halnya dengan The Pacific yang dibuat berdasarkan DUA buku yang merupakan memoir dari veteran perang Pasifik. Tidak mudah bagi penulis skenario untuk menyatukan dua buku yang sungguh berbeda menjadi satu cerita yang konsisten. Dan jadinya kita seperti melihat dua film yang terpisah ketimbang satu seri utuh. Sering terjadi loncatan dari satu tokoh ke tokoh lain yang sebenarnya gak nyambung.

Secara teknik dan sinematografi tidak perlu banyak dikomentari. Jempol. Adegan perang sangat realistis dan lebih berdarah dibandingkan dengan teater Eropa melawan Jerman. Sayangnya kurang dieksplor adegan dari sisi Jepang untuk menambah sisi realistisnya. Akting para tokoh juga patut diacungi jempol walaupun mereka adalah nama2 yang belum pernah kita dengar dalam dunia film.

Satu catatan akhir, film ini penuh dengan simulated sex scene, adegan berdarah, sehingga strictly untuk 17 tahun ke atas. Jangan ajak adik2nya nonton ya.

Film: 3.5/5

Skenario: 3.5

Sinematografi: 4/5

Akting: 3.5/5

One comment

  1. hidup bajakan hahaha.mw gk mw lgi2 nnton dri bajakan.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: