h1

(Indonesia) Tanah Air Beta

July 9, 2010

Alenia ( Ary SihasALE – NIA Zulkarnaen) Production kembali dengan karyanya yang terbaru Tanah Air Beta. Kali ini ia mengangkat masalah perbatasan Timor Leste – Indonesia dan masalah seputar keluarga yang terpisah akibat sengketa tersebut. Untuk kesekian kalinya ALENIA mengangkat kekayaan khasanah Indonesia, setelah Denias yang mengangkat kisah anak di Papua dan King yang mengangkat kisah anak di Baluran.

Adegan awal yang menggambarkan arus pengungsi dari Timor yang melintas ke perbatasan Indonesia cukup menghentak. Adegannya seperti film HOTEL RWANDA saja. Tapi rupanya fokus ceritanya tidak di situ, melainkan pada kisah keluarga yang terpisah akibat merdekatnya Timor Lesta. Gak pa pa juga sih mau mengangkat kisah seputar itu, meskipun aku pribadi mungkin menganggap kita para pengungsi pasca pemisahan lebih seru.

Akting pada tokoh juga kupikir cukup bagus, terutama kedua tokoh anak yang menjadi pemeran utama: Griffit Patricia dan Yahuda Rumbindi. Chemistry antara keduanya begitu terasa bahkan lebih kental dari chemistry antara dua saudara yang terpisah akibat merdekanya Timor Leste. Yang perlu mendapat acungan jempol juga adalah Asrul Dahlan, yang nota bene berdarah Batak campur Padang. (ingat perannya di film King yang jadi sopir yang berasal dari Padang). Aktingnya dan logatnya, paling tidak bagi saya, cukup memukau dan seolah memang berasal dari Timor.

Penggunaan dialek daerah tersebut yang kental memang memberikan nuansa tersendiri bagi film ini, sesuatu yang jarang kita temuakan dalam film Indonesia. Sebagian besar film kita menggunakan dialek Jakarta dan terlalu berpusat pada gaya hidup kota. Padahal Indonesia bukan hanya kota, dan tentu saja bukan hanya Jakarta dan Jawa.

Sayangnya inti dari cerita itu, yaitu terpisahnya keluarga justru terasa kurang menggigit. Mungkin ini dikarenakan ceritanya hanya berpusat pada satu pihak keluarga. Jadinya kita sebagai penonton tidak begitu merasakan emosi dari kedua saudara yang terpisah. Lagu KASIH IBU juga tidak terlalu membawa emosi penonton. Mungkin lebih baik justru lagu INDONESIA PUSAKA yang dijadikan fokus.

Sinematografi dan skrip film ini kuanggap cukup baik. Kamera bisa menangkap keindahan sekaligus kegersangan pulau Timor yang menjadi lokasi film. Skrip film yang menggunakan bahasa Indonesia logat setempat juga cukup memukau bagi saya yang belum pernah mendengar dialek tersebut.

Satu hal yang miris bagiku adalah penggunaan lagu Indonesia Pusaka di dalam film ini (yang syairnya berisi judul film ini TANAH AIR BETA). Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang Timor asli saat menyanyikan lagu ini. Aku, dengan latar belakang budaya Melayu yang dekat dengan bahasa Indonesia, tentu saja bisa menghayati dalamnya syair lagu ini. Tapi bagaimana dengan anak2 Timor yang asing dengan bahasa Indonesia. Bagaimana sesungguhnya perasaan mereka dengan sebuah lagu yang syairnya asing? Apakah terdengar seperti sebuah lagu dari negeri asing yang menjajah mereka. Aku tak bisa  menjawab ini.

Akting: 3.5/5

Sutradara: 3.5/5

Sinematografi: 4/5

Film: 3.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: