h1

3 hati (Dua Dunia Satu Cinta)

July 5, 2010

Setelah lama puasa nonton dan ngeblog, inilah blog entri yang pertama.

Mulanya aku tahu film ini dari MetroTV dan terus terang bikin penasaran untuk melihatnya. Apalagi setelah melihat tim yang ada dibelakangnya adalah Mizan Production yang telah melahirkan film seperti LASKAR PELANGI dan GARUDA DI DADAKU. Harapan bahwa film ini adalah sebuah film yang bermutu melambung tinggi.

Akhirnya film ini kutonton di bioskop murahan sebelah rumah (10ribu), bukan karena gak punya duit, tapi lagi males nonton jauh2. Bioskop tidak terlalu penuh, hanya terisi kurang dari setengah. Gak tahu yah dengan layar sebelah yang lagi muter film NOT FOR SALE.

Film ini mengangkat tema pluralisme dengan pasangan yang berbeda agama (seperti yang diangkat film Cin(t)a beberapa waktu lalu. Ini adalah sebuah tema yang sensitif yang cenderung banyak dihindari untuk dibahas, walaupun dalam kenyataannya banyak terjadi dan menjadi dilema. Salut saya untuk Mizan Production yang berani mengangkat ini.

Film ini memakai pendekatan yang lebih komedi, berbeda dengan film Cin(t)a yang lebih romantis dan juga simbolis erotis. Tema berat ini didekati secara lebih ringan dan tawa. Meskipun demikian aura keseriusan tema cerita ini tidak terasa berkurang meskipun dibalut dengan tawa.

Komedi film ini juga dibawakan secara mengalir tanpa memaksa penonton untuk tertawa. Adegan penyerbuan laskar yang mirip FPI bahkan bisa memperlihatkan ketegangan, walaupun masih menyisipkan tawa. Ini menunjukkan ia adalah sebuah komedi yang berhasil dan tidak murahan.

Kekuatan film ini terutama sekali adalah penggalian karakter Rosyid dan keluarganya. Chemistry antara tokoh Rosyid dan ibunya (Henidar Amroe) sangat terasa terutama sewaktu ia membacakan puisi untuk emak. Begitu pula dengan bapaknya (Rashid Karim) yang justru lebih nampak dalam adegan tanpa dialog. Sayangnya chemistry antara Rosyid dan Delia justru tidak sekuat itu. Sehingga jadinya ini lebih merupakan kisah cinta keluarga ketimbang kisah cinta dua insan. Ini bukan berarti kisah cinta beda agama ini kurang mendalam karakternya, hanya saja cinta mereka agak tertimpa dengan kuatnya karakter kedua orang tua Rosyid.

Puisi memang menjadi kekuatan film ini. Sayangnya puisi terakhir justru terasa kalah kuat dengan puisi untuk emak, sehingga dengan demikian ending film ini terasa kurang gongnya. Begitu pula dengan tari Zapin yang dibawakan bersama Rosyid dan Delia, yang diniatkan sebagai penutup. Mungkin untuk lebih menguatkan cerita, tari Zapin tidak dijadikan ending, melainkan menguatkan di sisi puisi saja.

Final verdict, ini adalah sebuah film yang bagus. Film Indonesia terbaik dari yang kutonton tahun ini (dari sedikit sekali film Indonesia yang kutonton).

Skrip: 3.5/5

Sutradara: 4/5

Akting: 3.5/5

Film: 3.5/5

5 comments

  1. well, ane udah liat di infotainment neh pelem, keknya keren🙂


  2. Setuju,ini film terkeren tahun ini,berbobot tapi menghibur ! Barvo Bnni setiawan setelah filmnya BUKAN CINTA BIASA,yang bernuansa Rock n Roll,dia piawai juga mengangkat tema budaya betawi dengan aroma hollywood..bravo


  3. yup, film nya bagus banget kawan…!!!
    salam kenal sblm nya….
    Please visit my blog


  4. welcome back bro. Wah nanti kalo sempet, gua nonton film ini deh. Secara gua suka CIN(T)A.


    • ya, baru ngeblog lagi nih. eh, tau2 si gilasinema udah ngilang🙂 mudah2an dia nanti balik lagi lewat curhatsinema



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: