h1

A Dream for Kabul

December 9, 2009

Film ini adalah film pertama yang kutonton di Jiffest 2009 kali ini. Seperti biasanya aku maniak film dokumenter dan ini adalah salah satu film yang kusasar.

Film ini disutradarai oleh seorang Kanada Philippe Baylaucq, dan juga dibiayai oleh pemerintah Kanada lewat National Film Board. Sang sutradara selama beberapa tahun mengikuti kegiatan seorang pemimpi dari Jepang bernama Haruhiro Shiratori, yang ingin mewujudkan impiannya di Kabul, salah satu tempat yang paling berbahaya di dunia.

Mengapa Shiratori sampai mau bersusah2 ke Afghanistan? Di sinilah letak refleksi film ini. Kadang di saat kita berada dalam posisi nothing to loose, keajaiban2 bisa muncul. Shirotori merasa dirinya sudah mati. Anaknya satu2nya, Atsushi, menjadi korban dari peristiwa 9/11. Anaknya adalah seorang lulusan Berkeley, yang kemudian bekerja sebagai pialang di WTC, dan menjadi korban di hari naas itu.

Ia tanpa anaknya adalah sebatang kara, hidup bersama istrinya yang menderita stroke. Ia sendiri adalah survivor dari Perang Dunia II, ayah dan ibunya adalah korban dari pemboman Tokyo. Ia dan saudaranya yang masih selamat berpencar, dan ia akhirnya bisa tetap hidup, menikah, bekerja di restoran, dan akhirnya punya anak satu-satunya yang menjadi bukti kehadirannya di dunia ini. Tanpa anaknya, ia merasa hidupnya di dunia telah berakhir.

Namun justru di tengah perasaan “kehilangan diri”, ia bisa mendapat pencerahan. Ia bisa melihat bahwa melawan kekerasan dengan kekerasan tidak akan berujung. Ia harus mulai dengan membuat perdamaian. Dengan segala kendala bahasa, ia berangkat ke Afghanistan, dengan niat supaya siklus kekerasan ini bisa diakhiri. Dan ia pun belajar sulap, dengan harapan bisa menjadi bahasa universal untuk menghibur anak2 di sana.

Perjalanannya inilah yang direkan oleh sang sutradara. Dan perjalanan ini membawanya ke banyak hal. Ia  jadi sering berbicara ke sekolah2 baik di Jepang maupun Amerika. Ia membawakan kisahnya sebagai seorang keluarga korban, dengan harapan bahwa anak2 dapat menjadi pembawa damai, dan siklus kekerasan ini dapat diakhiri.

Di luar dugaannya, kunjungan ke Afghanistan, di tengah puing2 bekas pemboman justru mengundang kembali memori masa lalunya ketika berusia empat tahun. Ia seperti melihat dirinya sendiri di tengah pemboman Tokyo. Ini justru membuatnya bisa menempatkan diri di tengah para penduduk Kabul, sebagai sesama korban. Ia pun jadi akrab dengan seorang anak di Kabul bernama Ihsanullah, yang kakinya terkena pecahan bom saat Kabul di bom pesawat Amerika.

Akhirnya ia punya niat untuk mendirikan sebuah memorial untuk anaknya di Kabul, lengkap dengan sekolah dan perpustakaan, sebuah pertemuan kultural antara Jepang dan Afghanistan. Seorang arsitek kenamaan Jepang Kisho Kurokawa pun memberikan jasanya untuk merancang memorial itu secara gratis. Meskipun demikian perjalanan masih panjang sampai memorial ini bisa berdiri di sebuah bukit di Kabul.

Film ini menyuarakan perdamaian secara lantang. Shiratori menjalankannya dengan memutus rantai kekerasan itu pada dirinya sendiri. Seorang anak sekolah di Amerika bertanya kepada dirinya, apakah sempat tersirat untuk membalas dendam kepada orang yang telah membunuh anaknya. Ia mengiyakannya, dengan berkata bahwa ia pernah sampai satu titik untuk membalas dendam. Namun ia berpikir kembali, dengan demikian rantai kekerasan tidak pernah putus. Kurokawa bersuara dengan karya arsiteknya. Ia ingin karyanya membuat sebuah peleburan antara Jepang dan Afghanistan dengan menanam 911 sakura di memorial tersebut. Ia sendirinya dalam wawancara berkata bahwa selama ada hegemoni, tidak akan ada perdamaian, perdamaian baru bisa diciptakan kalau kita bisa hidup bersama.

Satu hal yang juga menarik adalah bagaimana tanggapan orang Jepang sendiri terhadap peristiwa 9/11. Anak2 Jepang pasca perang dunia telah menikmati kedamaian dan juga kemakmuran. Mereka tidak merasakan apa yang dialami Shiratori. Seperti pengakuan seorang mahasiswa di sana, kadang kala, perdamaian membuat kita tidak peka pada kemanusiaan. Hanya pada saat2 krisis, kemanusiaan kita mendapat manifestasi.

Seperti kata sebuah ungkapan, hanya pada saat perang kita bisa melihat malaikat dan melihat setan.

Dan peristiwa 9/11 juga telah melahirkan malaikat dan setan.

Film: 4/5

Sutradara: 4/5

Skrip: 4/5

Editing: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: