h1

Balibo tidak lolos sensor, batal tayang di Jiffest

December 3, 2009

Satu lagi film jadi korban tidak bisa ditayangkan di Jiffest. Saya tidak tahu alasan resmi dari LSF, tapi saya bisa menduga kalau film Balibo yang tidak lolos sensor ini tidak bisa ditayangkan karena takut memicu amarah massa (tertentu).

Film ini diilhami oleh peristiwa meninggalnya lima orang jurnalis Australia sewaktu invasi Indonesia di Timor Timur di tahun 1975. Peristiwa itu memang sudah lama terjadi, dan Timor Timur pun sudah merdeka menjadi Timor Leste. Namun luka lama diyakini (paling tidak oleh anggota LSF) bisa memicu kemarahan kelompok tertentu sehingga daripada memancing keributan, maka film ini tidak bisa diputar di Indonesia, bahkan diputar secara terbatas.Ini terjadi untuk kesekian kalinya. Ingat kasus film True Lies, Buruan Cium Gue, dan juga Schindler List. True Lies ditarik dari peredaran karena menjadikan bangsa Arab sebagai sasaran komedi; Buruan Cium Gue karena isu pornografi dan mengajarkan ciuman sebelum menikah; Schindler List karena memberikan sentimen positif pada bangsa Yahudi. Belakangan Schindler List bisa masuk lewat DVD, namun gagal diputar di bioskop. Alasannya selalu sama, ada kelompok yang dikhawatirkan akan marah dengan diputarnya film tersebut, dan nantinya memicu kerusuhan.

Logika seperti ini menurutku tidak bisa diterima. Mengenai memicu kerusuhan atau tidak, itu adalah urusan polisi. Bila ada kelompok yang memulai kerusuhan, dengan alasan apa pun, ia melanggar hukum dan polisi berhak menindaknya sesuai dengan hukum yang berlaku. Begitu pula dengan orang yang memicu atau memancing kerusuhan. Misalnya menyebarkan selebaran gelap, membuat pidato, dll yang menyuruh atau paling tidak memancing orang untuk berbuat rusuh.

Perlu dibedakan dua hal, yaitu menyuruh orang membuat rusuh, dan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak bermaksud memancing kerusuhan, namun ditafsirkan oleh orang lain, yang menggunakannya untuk memancing kerusuhan. Kasus pertama cukup jelas karena jelas pidananya. Namun kasus yang kedua berada di area abu-abu. Bisa jadi dalam kebebasan berekspresi, orang membuat pidato, tulisan, atau karya seni yang melawan pendapat umum, namun tidak melanggar hukum secara langsung. Misalnya ia mengkritik pimpinan sebuah organisasi yang cukup banyak pengikut fanatiknya. Kritik adalah kebebasan berekspresi. Bila yang dikritik tidak berkenan, ia bisa membalas dengan ekspresi juga. Wacana dilawan dengan wacana, bukan dengan kekerasan. Namun ini tidak terjadi di Indonesia. Wacana sering dilawan dengan kekerasan.

Hal yang perlu dilakukan, ketimbang sensor sana sini, justru adalah mengembalikan wibawa negara, sebagai monopoli kekerasan. Bila rakyat dibiarkan melakukan kekerasan, dengan alasan apapun, maka negara kehilangan fungsinya sebagai penegak hukum, dan satu-satunya yang boleh melakukan kekerasan untuk penegakan hukum dan tata tertib.

Sensor yang dilakukan untuk mencegah kekerasan adalah ibarat melarang orang memakai perhiasan untuk menghindari perampokan, sementara perampoknya dibiarkan berkeliaran.

Bangsa kita perlu lebih dewasa, dan bangsa yang dewasa adalah bangsa yang bisa menghargai perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat dibenarkan dan difasilitasi. Tidak boleh ada monopoli kebenaran, sehingga tidak ada satu kelompok pun yang bisa memaksakan tafsirnya akan kebenaran kepada pihak lain. Tanpa pembelajaran seperti ini, sulit diharapkan bangsa kita bisa berkembang jadi bangsa yang besar.

8 comments

  1. Great! Emang benar. Hanya karena film ada suatu isu sensitif, disenseo karena ditakutkan ada kekerasan. Padahal yang salah adalah orang bukan film.


  2. Setuju banget deh. Awalnya saya agak bingung dengan film ini karena sempet heboh di twitter, saya kira tentang film bom bali, eh setelah baca artikel ini baru ngeh.

    Kadang-kadang saya pengen ngelempar Lembaga Sensor Indonesia pake batako deh, sempit banget pikirannya. At least dengan adanya film Balibo kita bisa melihat peristiwa itu dari perspektif orang Australia.

    sulit memang biar indonesia bisa kayak amerika, jatuhnya malah selalu kayak china, main larang mulu.

    btw, saya baru tahu lho Schindler’s List itu dilarang di sini. Padahal itu salah satu film favorit saya sepanjang masa. nice info.


    • aku terus terang gak jelas gimana ceritanya. pas itu kan posternya udah ditempel, trailernya juga udah diputar. eh tau2nya batal tayang. di media gak rame sih, secara jaman itu masih jaman sebelum reformasi 98. siapa yang berani kritik2
      pemerintah.
      terus terang ada dua kemungkinan kenapa film itu gak lolos sensor:
      1. ada adegan nudity. katanya sih pihak produser gak mau adegan ini dipotong lembaga sensor. dan gara2 adegan nudity ini film ini gagal masuk di singapur.
      2. sentimen yahudi. tapi ini terus terang gak dibicarakan secara terbuka. kemungkinan ada pihak2 yang melobi lembaga sensor untuk membatalkan penayangan film ini karena memberi gambaran positif tentang orang yahudi. di sini kan yahudi udah pasti jelek pokoknya.


  3. Saya setuju dengan pernyataan anda terutama pada paragraf terakhir, kita harus bisa menjadi bangsa yang dewasa. Namun kitakan sedang dalam proses perkembangan.
    Tapi setidaknya kita harus bersyukur sudah bisa lahir, tinggal dan menjadi warga negara yang kita cintai ini,
    gimana coba kl kita terlahir di negara China sana yang kebebasannya (terutama filmnya ya) terbatas.
    Hayooo…
    btw trims yah atas kunjungannya ke blog saya🙂


  4. Kalo diputer masalahnya adalah bakal lebih banyak komentar dari yang belum nonton daripada yang udah nonton😛


    • haha… betul sekali
      yang belum nonton selalu komentarnya lebih banyak daripada yang sudah nonton


  5. Judulnya filmnya kok ngondek ya? ^o^ *ya ampun kok malah gue becandain*

    detikHot ada ulasan filmnya http://movie.detikhot.com/read/2009/12/02/164513/1252889/218/balibo-suguhkan-tentara-berdarah-dingin


  6. padahal udah lama pengen nonton, malah nga jadi😦



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: