h1

Surrogate Sucks

October 6, 2009

surrogateIni adalah salah satu film sci-fi paling buruk yang pernah kutonton. Sebenarnya mungkin film ini tidak buruk2 amat, tapi karena sci-fi adalah sebuah genre yang pakai otak, sebuah film yang tidak memakai otak di dalam genre ini menjadi tak termaafkan.

Film ini sebenarnya dimulai dengan premis yang menjanjikan. Andaikan seluruh hidup kita bisa digantikan dengan robot (a.k.a Surrogate), kita dengan enak hanya tinggal di rumah. Ini semacam menyindir kehidupan modern sekarang di mana orang bisa berhubungan satu sama lain dengan avatar (lewat facebook, YM, BB, dll). Begitu pula dengan game online dimana kita seolah2 memiliki hidup “yang lain”, dan di sana kita bisa menjadi siapa saja. Bayangkan kalau seluruh hidup anda dilakukan seperti itu, ibarat anda main game online, masuk ke dalam dunia The Sims Online (atau yang lebih canggih Second Life), 24 jam sehari.

Namun justru di situlah kejatuhan film ini. Penulisnya (entah penulis novel grafisnya juga seperti itu saya tidak tahu) tidak memikirkan konsekuensi dari ide cerita ini, yang membuat kita selaku penontonnya bisa percaya. Dikatakan bahwa dengan memakai Surrogate kejahatan berkurang lebih dari 90%. Ini tidak bisa dipercaya. Hanya dengan berganti memakai robot, kejahatan alih2 berkurang, bahkan semakin bertambah. Apalagi dengan pemakai robot yang selalu tinggal di rumah, kejahatan pembunuhan atau pencurian dengankekerasan di dalam rumah menjadi semakin mungkin. Lagi pula, bukankah lebih mudah kita melakukan kejahatan dengan robot ketimbang dengan badan sendiri. Memang kemudian di dalam cerita digambarkan ada hacker di kepolisian yang bisa menghentikan Surrogate sebelum mereka melakukan kejahatan, tapi itu bukanlah ide dari pembuat Surrogate, melainkan hacker yang bisa menembus sistem, dengan kata lain itu bukan by design. Hacker lain dengan mudah mem-bypass perintah itu dan membuat Surrogate-nya tidak bisa dimatikan dari luar.

Bagaimana pula dengan orang yang memakai Surrogate tanpa henti. Mereka bahkan tidak melakukan kegiatan fisik, hanya tiduran dan plug in dengan dunia Surrogate-nya. Bahkan di dalam filmnya tidak ada digambarkan adegan orang makan! Jangankan dengan kenyataan yang digambarkan di dalam film, dengan bermain game online 24 jam penuh saja, badan sudah sakit dan dipastikan dalam 1 minggu orang bisa mati, seperti yang sudah terjadi!

Surrogate mungkin lebih masuk akal kalau dipakai sekali2, misalnya untuk melakukan ekstrim sport tanpa membahayakan fisik. Atau melakukan eksplorasi berbahaya seperti naik tebing atau diving. Di luar itu siapa coba yang mau memakai Surrogate untuk menggantikan diri asli kita liburan di Hawaii, merasakan deburan ombak dan panasnya matahari Hawaii. Atau bisa juga dipakai untuk aplikasi militer, karena lebih masuk akal untuk mengorbankan robot ketimbang operatornya yang manusia beneran. Tetapi dengan hanya dipakai sekali2, berarti ide film ini akan berubah total, yang justru mengandalan cerita 90 persen lebih manusia memakai Surrogate.

Adanya koloni penolak Surrogate, yang tidak boleh dimasuki oleh Surrogate juga tidak masuk akal. Jelas bahwa Surrogate secara fisik lebih kuat dari manusia biasa. Mereka yang lebih kuat, hampir pasti tidak akan memberikan kekuasaan kepada yang lebih lebih. Lebih masuk akal mereka itu semua masuk ke kamp tawanan, atau paling tidak semacam reservasi Indian, dan semua aktivitas mereka dibatasi. Tidak mungkin pemerintah tidak bisa menembus koloni para dread (anti-surrogate) yang hanya bersenjata senapan biasa.

Bagaimana pula dengan anak2 dan sekolah. Di dalam film ini digambarkan (secara konyol) seorang pemakai Surrogate yang mati ketika sedang berbaring di asrama kampusnya. Dengan Surrogate, asrama bahkan tidak diperlukan karena semua orang bisa tinggal di rumah, dan Surrogate-nya yang tinggal di asrama.

Di film ini juga tidak digambarkan bagaimana orang berkembang biak, karena tentu saja berhubungan seks dengan Surrogate tidak akan membuatkan kehamilam, atau malah tidak berasa sama sekali.

Dan yang paling konyol, di tengah kemajuan teknologi seperti itu, kita masih pakai USB?

Film: 2.5/5

Akting: 3/5

Skrip: 2/5

Sutradara: 2.5/5

2 comments

  1. Waduh, dari ide awalnya aja udah ancur begini nih film. Kalaupun nonton kayaknya gak bakalan kupikirin isi filmnya, cuma buat hiburan dar der dor doang.

    jangan dibandingin sama minority report atau blade runner. jauuuuhhh.


  2. Setuju.

    Aku juga berpikir bagaimana mereka makannya? Dan kalau memang lama tidak dipakai begitu tubuh mereka bagaimana tidak mati saraf motoriknya (ingat Minority Report ketika precog dilepas dari tempatnya saja saraf motoriknya jadi lemah. Atau Neo dari The Matrix ketika dibangunkan pertama kali?)

    Ending dalam filmnya juga terlalu sepele. Kalau memang semua sudah mengandalkan Surrogates terus dimatikan semua ga mungkin kehancuran semua begitu saja. Plus bagaimana dengan RS yang ditangani Surrogates? Pesawat yang dipiloti Surrogates? No casualties? Yeaaahhhh righttttt…. >_>;;;

    ya nih. males banget kan



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: