h1

Hurt Locker, Bukan Film Perang Biasa

September 15, 2009

hurtlockerFilm ini bukan film perang biasa, mengikuti tradisi film Apocalypse Now dan Full Metal Jacket. Ia tidak meletakkan perang sebagai sebuah heroisme. Ia tidak menentukan tokoh secara hitam putih, mana penjahat dan mana jagoan. Ia bahkan tidak memberikan sebuah jalan cerita, melainkan hanya beralih dari satu penjinakan bom ke penjinakan bom lainnya.

Tapi justru itulah yang ditawarkan film ini, sebuah keseharian dari para penjinak bom, yang menghitung hari, yaitu 40 hari sebelum bisa beristirahat dan dirotasi ke tempat lain. Sebuah hidup menghitung hari, yang selalu bergulat dengan maut, yang bisa menjemput setiap saat.

Cerita ini berfokus pada seorang tokoh, bernama William James (mengingatkan pada seorang filsuf Amerika yang mendirikan aliran Pragmatisme, sekaligus salah satu bapak psikologi modern), yang diperankan secara luar biasa oleh Jeremy Renner. Ia digambarkan sebagai seorang yang terlalu “mencintai” pekerjaannya sebagai penjinak bom sehingga sampai pada taraf obsesi dan tidak mampu lagi hidup sebagai orang normal. Hidupnya hanya berarti di tengah ketegangan antara hidup dan mati dan picu bom.

Film ini juga menggambarkan perang tanpa tedeng aling2. Tidak ada jagoan yang tidak pernah kehabisan peluru. Atau kalau jagoan menembak musuh satu kali mati, sedangkan jagoannya harus diberondong berkali2 baru mati. Satu peluru di tempat vital cukup untuk menyudahi siapa pun.

Di lain pihak, ia menggambarkan rumitnya perang, di mana kita tidak mengerti bahasa yang dipakai oleh penduduk setempat. Kadang kala perbedaan bahasa bisa memicu kekerasan yang tidak perlu. Padahal masalahnya sebenarnya sederhana, saling tidak mengerti saja, namun ketidakmengertian dengan picu senjata di tangan. Ketegangan justru dibangun di atas ketidaktahuan akan siapa musuh. Setiap orang punya potensi sebagai musuh.

Hubungan psikologis sesama prajurit juga tidak kalah rumit, dan tidak kalah runyam. Senioritas, peraturan, dan lain2 saling silang sengkarut. Ada yang menuruti hatinya dalam kondisi sulit, dan ada yang patuh pada prosedur supaya selamat. Yang mana yang terbaik, lihat saja mana yang tetap hidup.

Kesemuanya ini diramu dengan piawai oleh sutradara Kathryn Bigelow. Ia memang jarang membuat film. Namun bersama dengan film ini, ia menjadi seorang sutradara yang patut diperhitungkan dalam film action yang kebetulan sepi dari sutradara bermutu.

Film ini adalah film perang terbaik tahun 2008, dan layak disandingkan dengan film-film perang terbaik sepanjang masa.

Film: 4/5

Akting: 4/5

Sutradara: 4/5

Action: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: