h1

Merah Putih, Film Perang tanpa Nasionalisme

August 17, 2009

merahputihAku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah dirobeknya Indonesia oleh terorisme. Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah komersialisasi film nasional. Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah trend haru biru film islami romantis. Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah film setan dan penebar syahwat tanpa otak. Dan semua harapan itu aku tumpukkan pada film ini, MERAH PUTIH. Mungkin harapanku terlalu besar dan aku kecewa.

Harapanku, dengan budget yang katanya 60 milyar, dan kru dari negeri paman Sam, paling tidak film ini bisa menyamai film seperti Tjoet Nja’ Dhien, atau November 1828. Semua itu jauh panggang dari api. Film ini dengan semua kemewahan budget dan teknologinya, sekedar menjadi film perang murahan dengan budget B-movie.

Untuk mengobarkan nasionalisme, ketimbang menghabiskan 60 milyar, masih mending film GARUDA DI DADAKU, yang menggambarkan keinginan seorang anak untuk memakai kaus tim nasional dengan lambang garuda di dadanya. Lebih kena dan lebih nendang, tanpa pakai special effect yang berlebih.

Pertama, plot-nya unbelievable. Jadi penasaran siapa yang menulis skripnya. Plot filmnya sangat mirip dengan film Amerika dengan latar perang Vietnam. Jika kostum tentaranya diganti, dan juga baju orang desa dengan blangkon dan sarung diganti, pasti anda akan bilang ini adalah adegan film perang Vietnam. Tentara masuk kampung, mencari vietkong, lalu membunuhi seluruh isi kampung dan membakar seluruh kampung.

Lalu adegan sekolah perwira TKR. Emang ada ya sekolah perwira TKR di awal kemerdekaan (saya gak tau sih). Rasanya dalam situasi perang kemerdekaan sulit untuk membuat sekolah perwira di tempat yang aman dengan segala fasilitas barak yang baik. Lagi2 mirip film Amerika, para tentara yang lagi latihan di barak sebelum dikirim ke Vietnam. Dan yang lucu lagi ada adegan graduasi sekolah perwira TKR dengan acara gambang kromong dan dansa dansi ala kelulusan sekolah perwira Amerika. Emang kalau sekolah tentara TKR jaman itu ada kayak gitu yah. Emang sih aku gak tau tapi kok rasanya gak masuk akal ya…

Terus adegan film perangnya. Sawi mawon dengan adegan film perang jadul. Selalu adegan perangnya adalah adegan ambush (penyergapan maksudnya). Ada iring2an tentara lewat, terus diserang. Apa gak ada adegan lain?

Film ini trailernya memberikan banyak pengharapan, namun akhirnya eksekusinya sangat lemah. Ide ceritanya padahal lumayan, beberapa anak muda yang bergabung dengan tentara republik dengan berbagai alasan: pengen gagah2an, cari aman, ingin berjuang dan ingin balas dendam, disatukan dalam satu semangat, Indonesia Merdeka! Penokohannya lemah, sekedar menunjukkan adegan2 kecil, dan banyak di antaranya sekedar komikal tanpa memberikan latar yang mendalam. Latar sejarahnya juga tidak jelas. Lokasi dan waktu kabur. Untuk sebuah film yang berdasarkan sejarah, latar tempat dan waktu sangat penting, supaya penonton bisa masuk ke dalam cerita. Bukan berarti semuanya harus nyata persis tanpa memberi peluang untuk fiksi, namun paling tidak harus believable.

Untuk mengobarkan nasionalisme, ketimbang menghabiskan 60 milyar, masih mending film GARUDA DI DADAKU, yang menggambarkan keinginan seorang anak untuk memakai kaus tim nasional dengan lambang garuda di dadanya.

Dan yang terakhir, gak dimanapun, yang namanya film perang lawan Belanda, gak Kompeni, gak NICA, yang jadi nyang jadi Belanda tetep Rudy Wowor!

Film : 2/5

Skenario: 1/5

Sinematografi: 3/5

Akting: 2.5/5

13 comments

  1. segitu jelek-kah?

    ya sejelek itu, dan lebih jelek lagi!


  2. setuju…!!!

    apalagi ketika aku belom tau kalo pilm ini ternyata trilogi,, dan dihadapkan dengan ending yang nggantung,, makin gak respek ama pilm ini..

    mending nonton Garuda di Dadaku or King berkali-kali daripada nonton Merah Putih lagi..

    tulll!


  3. Kalo ga salah yg nulis skripnya orang barat.. ^^

    Sempet kaget juga pas ada pesta dansa2an. Padahal sebelumnya si komandan strict banget ke Islam, eh, di lama itu dia malah bilang: “Silakan pilih gadis kalian”

    gak jelas banget kan nih film?


  4. ga jelas filmnya, setuju sekali. 😀

    wah, selera anda nampaknya lumayan. hehe


  5. hihi..setujuuuu….emang deh nih film…seperti film yg dikerjain dg riset yg kurang…udh gitu editingnya kaco gila, masa ada scene yg orgnya udh mati tapi masih keliatan nafas…jadi males liat lanjutannya

    ya. haha… mulanya aku gak tahu. tiba2 yang disebelahkan komentar, eh perutnya masih bergerak.


  6. ada yg bilang jelek, ada yg bilang bagus…yg bener gimana yah..penasaran….

    biasa kok. bahkan film paling bagus pun, pasti masih ada yang bilang jelek. dan sejelek apa pun, pasti masih ada yang bilang bagus. nah mengenai perkara anda lebih pas ke yang mana, silahkan nonton, dan habis itu jangan lupa tulis komentar, hehe…


  7. emang sulit y memenuhi ekspektasi semua orang. apapun pndpt lo gw hargai usaha mereka yg telah serius bkn film ini. penilaian blm final karena msh ad yg ke 2 dan k 3. kita tnggu saja

    dengan menonton dan bayar tiket (bukan nonton bajakan) aku sudah menghargai pembuatnya. tapi sebuah film yang bagus layak dipuji, dan film yang buruk layak dicaci, tak peduli betapa besar usaha mereka. untuk film yang buruk, itu berarti usaha mereka masih kurang keras, dan merendahkan martabat kita sebagai penonton yang punya otak.
    aku betul2 ingin percaya kalau mereka bisa membuat film yang lebih baik di sequel berikutnya, meskipun secara rasional aku berpikir kalau filmnya akan tetap buruk, mengingat timnya sama.


  8. […] Film Garuda di dadaku sudah lewat masa tayang dan film merah putih mendapat rekomendasi jelek oleh seorang teman sehingga kulewatkan untuk menyelamatkan dana nonton […]


  9. Dan yang terakhir, gak dimanapun, yang namanya film perang lawan Belanda, gak Kompeni, gak NICA, yang jadi nyang jadi Belanda tetep Rudy Wowor!

    hahaha… jadi, Rudy Wowor toh.
    Tadinya niat nonton ini, tapi sayangnya (atau, untunglah?) udah habis masa tayangnya, nonton The Proposal deh.

    Hmm.. mungkin akan diputar di TV pas hari libur nasional, ditunggu saja.


  10. betul bos ane setuju ni film emg jelek bgts!! gw heran tentara2 dari jaman apa yg perang pke KEMEJA HEM PUTIH dan DASI??!!

    hahaha ada2 aja emg, bikin film mahal2 tp gak pake logika… sayang emang…


    • makanya sekuel merah putih yang bentar lagi tayang pasti gw boikot. udah liat trailernya, mirip film action Hollywood kacangan.


  11. BENER GA NYAMBUNG NIH…LIAT JAM YG DI PAKE SI DARIUS GAN…MASA ADA JAM SEGITU KERENNYA WAKTU ITU..ITU MAH JAM MODEL SKRANG…BEGONYA…LUPA DI LEPAS KLI YA WKTU SYUTING…


  12. saya pecinta film perang, baik kolosal maupun PD 2,
    saya kira hanya saya saja yang berpikir lokasi & waktu yg ga jelas di film ini, baru terungkap di seri ke duanya, darah garuda, lokasi latar berada di pulau jawa tapi ya dimana???
    saya pun juga merasa kecewa ketika pertama x menontonnya, percuma meski yg bikin efek kru dari saving private ryan, jika jalan ceritanya rendah, terlalu gampang & mengecewakan utk film yg menghabiskan budget sebesar itu..
    kenapa tidak mengambil cerita ttg pasukan penerjun “linud” seperti Band Of Brother, karena kita juga pernah punya peristiwa semacam itu sewaktu pembebasan irian barat “operasi trikora”
    tapi tidak usahlah, takut hasilnya tetap mengecewakan..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: