h1

Christ The Lord, Proyek Ambisius Anne Rice

May 4, 2009

outofegyptAnda mungkin sudah tahu cerita2 vampirnya Anne Rice yang sempat difilmkan menjadi Interview with the Vampire dengan tokoh Lestat-nya. Begitu pula dengan film yang tidak begitu bagus Queen of the Damned yang juga diilhami oleh bukunya. Ia emang mbahnya cerita vampir, for newbies sorry, bukan Stephenie Meyer.

Kali ini ia merambah dunia yang meskipun terlihat bedanya langit dan bumi, namun seperti diakui Anne Rice dibukunya, ia selama ini menulis novelnya selalu dengan penelitian sejarah. Namun sejarah yang ditulisnya kali ini bukan sejarah sembarangan, sejarah Yesus sendiri, yang diimani oleh milyaran orang di muka bumi ini. Aku sebagai seorang penulis dan teolog amatiran bisa memahami mengapa ia menulis buku ini. Ini adalah sebuah pergulatan iman baginya, yang sudah puluhan tahun meninggalkan gereja. Buku ini adalah pengakuan iman baginya, dan ketimbang mengaku dosa di gereja kepada seorang pastor, ia memilih jalan memutar yang jauh lebih berat. Tapi itulah dia, iman selalu personal dan tidak bisa diperdebatkan.

Novel ini mungkin akan menyinggung para fundamentalis Kristen yang hanya mengakui Yesus versi Alkitab. Di Alkitab versi resmi, ada kekosongan di dalam hidup Yesus, dari lahir sampai 12 tahun, kemudian dari 12 sampai 30 tahun. Kekosongan ini sebenarnya dapat diisi dari kitab lain yang tidak masuk Kitab Suci resmi ajaran Kristen, seperti kitab2 Gnostik dan (surprisingly) Al Quran. Kitab2 lain inilah bersama dengan kitab2 mainstream yang dipakai oleh para ilmuwan Perjanjian Baru untuk merekonstruksi kehidupan Yesus yang tidak tertulis dalam ajaran resmi. Selain itu sumber2 yang menggambarkan kehidupan masa Yesus secara tidak langsung seperti tulisan sejarawan Yahudi Josephus juga dipakai. Kesemuanya ini dimanfaatkan oleh Anne Rice untuk menghidupkan Yesus sebagai tokoh fiksi.

Beberapa bagian dapat membuat Anda sedikit merenung melihat kepiawaian Anne Rice merajut benang cerita dan dialog, dan memberikan Anda saat2 hening, terutama pada bagian dialog Yesus kecil dengan para rabi Yahudi. Saya hanya bisa berkata wow sewaktu membacanya. Di dalam posisi ini Anne Rice sebenarnya sudah masuk ke dalam ranah teologi, dengan jalur sastra. Ia bisa disejajarkan dengan Kahlil Gibran yang menulis buku Yesus Anak Manusia.

Satu hal yang mungkin bisa mendatangkan kritik keras adalah cara menulis buku ini yang dari sudut pandang orang pertama yaitu Yesus sendiri! Seolah buku ini mencoba menyelami apa yang ada di dalam benak Yesus di saat ia menjadi Al Masih. Ini adalah sebuah proyek yang sangat ambisius sekaligus berani, namun di lain pihak jujur. Kupikir setiap orang beriman memang harus mencari siapakah yang ia imani, dan ini adalah cara Anne Rice untuk menunjukkan imannya.

Di luar muatan teologisnya, buku ini adalah sebuah buku fiksi yang jika hendak dikritisi, kritiklah ia sebagai sebuah fiksi. Memang ia berbeda dengan Da Vinci Code yang penuh dengan kontroversi. Sejauh yang saya tahu, Anne Rice masih berpegang pada pakem ajaran standar kitab suci.

Secara keseluruhan ia adalah sebuah buku yang baik. Bagi Anda yang belum begitu membaca buku-buku tentang riset kisah hidup Yesus, ini bisa menjadi buku untuk masuk ke sana secara lebih menyenangkan. Begitu pula bagi Anda yang ingin tahu kehidupan umat Yahudi di masa Yesus hidup.

Buku ini sekuelnya juga sudah terbit: The Road to Cana.

Buku: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: