h1

Watchmen, bukan Superhero biasa

April 27, 2009

watchmenAku tidak akan seperti kritikus lainnya yang membandingkan novel grafisnya dengan filmnya. Di satu pihak tidak fair, karena sebuah film adalah sebuah karya seni yang berbeda dengan buku, dengan kelebihan dan kekurangannya. Di lain pihak, emang gue belum baca novel grafisnya.

Film ini sendiri pasti tidak memenuhi ekspektasi sebagian besar penontonnya. Pertama, ia bukan film superhero biasa, dimana jagoan ngegebukin penjahat. Ia adalah sebuah superhero yang menggambarkan konflik internal di antara superhero itu sendiri. Kedua, film ini bahkan bukan tentang kebaikan melawan kejahatan seperti pakem film superhero biasa, ia mempertanyakan banyak hal yang filosofis, seperti apa sebenarnya manusia di dalam jagat ini.

Film ini juga sulit untuk dinikmati sebagai film hiburan, terutama bagi para penonton yang mengandalkan subtitle. Dialognya berjalan terlalu cepat sehingga sukar diikuti. Dialognya pun berisi, sehingga kalau kelewat dikit saja, sudah lost.

Tapi tetap saja, ini adalah sebuah film yang luar biasa, paling tidak secara tata musik dan visualnya. Coba lihat adegan pembunuhan the Comedian yang diiringi lagu Unforgetable-nya Nat King Cole. Luar biasa. Begitu pula acara pemakaman the Comedian yang diiringi lagu The Sound of Silence-nya Simon of Garfunkel. Mantap.

Openingnya juga luar biasa. Dari kostum superhero jadul yang mengingatkan kita pada film BATMAN tahun 80-an. Penggambaran alternate history pra Nixon dengan krisis Kuba, terbunuhnya Kennedy oleh Comedian (wow!), perang Vietnam yang dimenangkan Amerika (gimana gak menang la wong dibantuin superhero), dan demo anti perang Vietnam yang menelan banyak korban. Hanya ada satu kata. Wow…

Yang kurang memenuhi ekspektasiku tentang judul film ini. Who Watch th Watchmen. Memang ia menggambarkan sebuah kondisi dimana nasib kita, ditentukan oleh segelintir orang alias superhero tadi. Alan Moore, sang penulis novel grafis ini, memang mengakui kalau film ini adalah sebuah kritik terhadap Reagenisme, dimana seorang koboi menjadi presiden dan menganggap dirinya tidak pernah (baca: tidak mungkin) salah, yang juga diselipkan secara humor di dalam film yaitu saat sang redaktur koran berkata, “Reagen, si koboi mau mencalonkan diri jadi presiden? Gak mungkin?” Namun tema ceritanya menurutku cenderung bergeser pada apakah kita bisa mengorbankan sedikit (definisi sedikit tentu sangat relatif) orang demi kebaikan sebagian besar orang. Tapi ini pun eksplorasinya kurang mendalam. Karena yang sedikit itu bisa jadi relatif, kalau mereka yang dikorbankan adalah orang lain. Tetapi kalau yang sedikit itu adalah orang yang dekat dengan kita atau kita kasihi, persoalannya jadi lain bukan? Walaupun jumlah mereka hanya satu berbanding dengan semilyar, tapi ia berharga seluruh dunia!

Yang kedua adalah pertanyaan tentang eksistensi manusia di muka bumi ini. Apakah kehidupan begitu penting. Apakah jika dilihat dari sudut pandang galaksi, bumi yang hanyalah sebuah bintik biru kecil pucat (meminjam istilah Carl Sagan: A Pale Blue Dot) berharga? Simak dialog antara Silk Spectre alias Sally Jupiter dengan Dr. Manhattan. Sayangnya adegan ini terasa kurang gregetnya.

Yang menarik juga adalah perdebatan apakah superhero adalah manusia super segala-galanya. Ataukah ia sekedar manusia juga, dengan kata lain superhero juga manusia. Ia memiliki sisi baik dan juga sisi buruk, yang cenderung tidak diakui. Hanya Comedian yang mengamini keduanya dan memilih untuk mentertawakannya, dengan nama yang dipilihnya, the Comedian. Bagian ini mendapatkan eksplarasi yang cukup tuntas sejak awal cerita. Eksekusi yang bagus.

Total general, sebuah film yang baik, hanya saja terlalu cepat, sehingga kurang meresap. Ibarat anda dihidangkan buffet 50 macam makanan dan anda hanya diberi waktu setengah jam.

Film: 3.5/5

Sutradara: 3.5/5

Akting: 3/5

Tata musik: 5/5

2 comments

  1. Hehehe… banyak yang ngeluh ini film kepanjangan tuh, On. Kalau aku sendiri sih kayaknya masih kurang eksplorasi krn banyak hal yg dibahas cuma kulitnya doang (atau aku yg memang krng ngerti dialognya, nonton lwt bajakan yg suaranya agak berdengung sih). Mungkin lbh baik jk dibikin berkelanjutan model LoTR.

    Soal pengorbanan sejuta demi semilyar pernah dibahas jg dalam serial Heroes season 1, jd temanya jadinya seperti udah agak biasa-biasa saja.

    mending nonton aslinya an. dengan teks yang bagus (kalau bisa teks inggris, soalnya terjemahannya bisa jadi ngaco). terus nontonnya pake di pause


  2. Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi. Saya juga ada menulis topik serupa tentang mencari kebahagiaan dan kebermaknaan dalam entri saya yang berjudul Being Superhero.

    Salam kenal, dan sampai jumpa lagi.

    Lex dePraxis



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: