h1

Tales from Earthsea, film Ghibli yang paling mengecewakan

April 27, 2009

tales_from_earthseaMau tidak mau semua penonton film keluaran studio Ghibli punya ekspektasi tersendiri terhadap film2 keluaran studio ini. Dua nama besar studio Ghibli yaitu Hayao Miyazaki dan Isao Takahata seperti jaminan mutu untuk sebuah film kartun berkualitas, baik yang magical dan kreatif seperti Miyazaki, maupun yang kelam dan realis seperti Takahata.

Kali ini adalah barisan kedua (atau cadangan yah?) dari studio Ghibli yang turun, yaitu Goro Miyazaki, anak dari Hayao Miyazaki. Ia nampaknya belum bisa mengarahkan film sekelas senior-seniornya. Sentuhan khas studio Ghibli belum terlihat dalam film ini, di luar tata gambar dan tata suaranya.

Film ini juga adalah film dari sebuah buku dengan judul yang sama, berbeda film Ghibli yang biasanya adalah cerita asli. Adaptasi tentunya merupakan perjuangan tersendiri. Film ini sendiri sudah pernah dibuat adaptasi lain dalam bentuk miniseri Earthsea yang ditayangkan di SciFi Channel. Film ini dibintangi si manis dari Smallville Kristen Kreuk. Penasaran juga sih.

Kelemahan film ini terutama adalah penceritaan. Ia tidak konsisten dari awal. Ia dibuka dengan sebuah legenda yang menurutku sebuah opening yang sangat bagus. Di awal dunia, manusia hidup bersama dengan naga. Namun kemudian manusia memilih tanah dan air (maka jadilah Earthsea) dan naga memilih udara dan api. Maka terpisahkan mereka untuk selama-lamnya di dalam dunia yang berbeda. Ini bisa dipahami kalau kita mengetahui kosmologi Yunani kuno yang menempatkan dunia dalam empat tingkatan konsentris. Yang paling bawah lingkaran bumi, yang kedua lingkaran air, yang berikutnya udara dan api. Manusia dengan demikian tinggal di dunia bawah, dan naga tinggal di dunia atas. Dunia kemudian digambarkan mengalami gangguan. Dimana2 panen gagal dan wabah merajalela. Keseimbangan alam terganggu, apalagi setelah ada laporan penampakan naga. Namun sampai akhir cerita, apa yang telah dipaparkan di awal cerita tidak mendapat penjelasan. Apakah keseimbangan bisa dipulihkan tidak disentuh sama sekali.

Penokohannya juga lemah. Sang tokoh utama, seorang pangeran muda digambarkan dikuasai oleh ketakutan. Eksplorasinya terasa mentah, dan diselesaikan dengan ujug-ujug. Begitu pula dengan sosok Archmage Ged, Teru dan Tenar. Semuanya terasa mentah.

Pada akhirnya tak banyak yang bisa dipuji dari film ini. Nampaknya Goro Miyazaki masih harus belajar banyak dari ayahnya untuk bisa menjadi seorang pencerita yang baik.

Film: 3/5

Sutradara: 2.5/5

Animasi: 4/5

Musik: 3.5/5

4 comments

  1. Soal bikin film adaptasi, Goro kayaknya harus belajar justru bukan pada ayahnya, melainkan Oom-nya Takahata.
    Liat aja karya Takahata dalam mengadaptasi novel Grave of Fireflies dan Only Yesterday sedemikian rupa.

    Aku barusan nonton Ocean Waves(film lama karya generasi muda Ghibli tahun 1993), penokohannya kuat walau teknik penceritaannya tidak sebagus Takahata menggarap cerita masyarakat urban dalam Only Yesterday. Tapi Ocean Waves sangat menarik utk ditonton (terlepas dr gambarnya yg biasa2 aja).

    aku udah nonton ocean waves. lumayan.
    btw kamu udah nonton earthsea belum? isunya sih si goro didekatin sama pihak ghibli untuk meneruskan klan bapaknya, padahal ia udah kerja jadi desainer gitu, landscape apa interior gitulah… dan agak clash sama bapaknya dalam film ini, sampai hayao miyazaki bener2 gak ikut campur. dan film ini dapat penghargaan worst movie dan worst director dari razzy award versi jepang.


  2. Udah nonton setahun yg lalu. Emang benar sih, ini film Ghibli yg paling jelek yg pernah kutonton. Bahkan bila dibandingkan dengan karya sutradara Ghibli non Miyazaki/Takahata yg lain jg masih kurang mantap. Mungkin Goro masih kurang jam terbang sbg sutradara.

    Yang ngasih Goro kesempatan sbg sutradara tuh orang ketiga Trio pendiri Ghibli, yaitu Toshio Suzuki. Katanya sih gara2 Suzuki ngeliat gambar story-board rancangan awal Eartsea karya Goro yg menarik. Karena itu keliatan banget animasi gambar film ini menarik, tp segi penceritaannya kedodoran. Mudah2an film berikut Goro yg rencananya bakalan rilis tahun 2010/2011 lbh baik, paling nggak dia udah ada pengalaman dan banyak belajar.

    Yang bikin penasaran tuh Takahata, jarang banget bikin film. Padahal karyanya sama bagusnya dgn buatan Miyazaki (walau lebih berat dan mendalam). Dia lg proses bikin film baru yg bakal rilis thn 2010, dan filmnya sendiri masih dirahasiakan plot ceritanya.


  3. Ahahahah ini film yang bener2 ajaib. Goro itu hubungannya sama bapaknya nggak baik. Menurut beberapa sumber bahkan mereka nggak berkomunikasi satu sama lain. Tapi Hayao memuji film ini sih. Muji-nya juga nggak muji2 amat, kalo nggak salah Hayao cuma komentar “Film ini dibuat dengan kepekaan hati, dan hasilnya kompeten”. Ga jelas banget, LOL. Saya nonton documentary-nya di DVD-nya…


  4. thanks guys reviewnya..

    http://www.indonetasia.com/definisionline



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: