h1

Jermal

March 19, 2009

jermalAkhirnya ada sebuah film Indonesia yang memenuhi standar film saya. Film ini adalah sebuah karya bersama Rayya Makarim, Orlow Seunke dan Ravi Bharvani. Sebuah fragmen dari kisah manusia di atas sebuah Jermal (jermal: dermaga di tengah laut untuk menangkap ikan atau udang).

Sebagian besar pemeran di dalam film ini adalah bukan bintang terkenal kecuali Dedi Petet. Beberapa pemain anak2 juga menunjukkan kualitas yang prima.

Pertama-tama, film ini adalah sebuah film laki-laki. Semua pemainnya laki-laki, perempuan hanya diwakili dengan surat dan suara. Cara pandang yang dipakai adalah juga laki-laki. Ini mengingatkan pada film Master and Commander. Film ini adalah film macho tanpa berpretensi menjadi sebuah film action.

Kedua, film ini mengingatkanku dengan David Copperfield (bukan sang pesulap tapi novel karya Charles Dickens). Menarik sekali melihat psikologi anak yang terlempar dari keseharian ke dalam sekelompok orang tak dikenal di dalam sebuah jermal, sebuah tempat yang terasing dari mana2. Dan ini bisa dieksekusi dengan baik oleh sutradara dan penulis. Ia yang seorang anak sekolahan benar2 terasing di antara anak2 pekerja kasar di jermal, walaupun sejalan dengan cerita, ternyata ia punya “keistimewaan”.

Ketiga. Film ini adalah sebuah film psikologis. Yang perlu kita cermati adalah justru yang tidak terkatakan. Jermal di satu pihak dapat menjadi tempat pelarian dari dunia luas, dan di lain pihak orang justru bisa bebas di saat tidak dikungkung oleh dunia luas. Ini juga psikologi yang sangat menarik. Masing2 anak digambarkan menunjukkan dunia versi mereka, dan mau tidak mau mereka harus hidup bersama dalam tempat yang terisolasi. Menarik sekali!

Film ini juga memasukkan sentimen tentang eksploitasi pekerja anak, walaupun itu tidak menjadi sentral cerita.

Secara keseluruhan, ini adalah sebuah film yang luar biasa. Ini adalah sebuah potret. Namun selayaknya sebuah potret, kita hanya disuguhi gambaran, dan kita harus melakukan interpretasi sendiri. Ini mungkin agak tidak biasa dibandingkan dengan film2 Indonesia pada umumnya. Ia sangat miskin dialog. Dialog2nya juga tidak menggambarkan isi cerita. Di sinilah kita sebagai penonton harus bisa menangkap apa yang tersirat, bukan tersurat.

Sayangnya film ini mendapat screen terbatas di bioskop2 tanah air yang lagi kesetanan dengan pocong dan lain2. Begitu tulisan ini diturunkan, film ini sudah tidak tayang lagi…

Overall: 4/5

Skrip: 4/5

Sutradara: 4/5

Akting: 3.5/5

3 comments

  1. Hehehe… kayaknya aku nggak bakalan bisa nonton nih, kecuali ada orang gila yg mau ngupload.
    JERMAL bahasa indonesia yah on? Tadinya aku cuma tau kata BAGAN (bhs melayu kali yah?), sedangkan Jermal baru tau sekarang.

    iya benar. aku tahunya juga baru dari film ini. ndak pernah dengar istilah “jermal” sebelumnya.


  2. Wah…bisokop sebelah rumah (yang 2 jam itu) belum putar. Masih bersibuk ria ma pocong dan kuntil. Tapi nanti bakal aku tonton kalau mereka berkenan memutarnya.
    Posternya bagus dan skenarionya udah menang penghargaan. Harusnya (semoga) ada sponsor yang bawa film ini ke festival internasional.
    Secara tema, kayaknya lebih unik d mata juri internasional dibandingkan Laskar Pelangi.

    yang jelas lebih bagus dari laskar pelangi. laskar pelangi menang angin aja. aku nyesel gak sempat nonton 3 doa 3 cinta yang cepat banget diturunin dari bioskop. untung sempat nonton jermal karena turunnya juga cepet banget. di gusur setan ama pocong


  3. Sungguh sayang!

    Dari trailer-nya saja saya juga sudah feeling bahwa cerita film ini sangat berpotensi. Apalagi setelah melihat sinematografi-nya yang cukup membuat saya berdecak kagum (kesannya professional dan arthouse sekali, seperti bukan film Indonesia). Usut punya usut ternyata DoP nya memang orang Belanda, hehehe. Pantesan. (Padahal udah semangat ’45 mau gloating ke temen2, pengen bilang “nih sinematografer Indonesia, gak kalah sama bule!”) LOL. Maaf, bukannya saya bilang bahwa Indonesia tidak punya sinematografer handal, tapi let me just say, masih JARANG.

    Mungkin terlalu berharap kalo saya menantikan rilis DVD-nya, sebab film bagus ini mendapat atensi sekecil kutu di Indonesia. Saya bukan anak film dan boleh dibilang nggak ngerti urusan bisnis (sisi keuangan) perfilman, tapi sebenarnya kalau film ini dimasukkan ke lebih banyak festival2 film asing, pasti publikasinya jauh lebih baik. Mungkin menelan biaya sangat besar ya untuk melakukan hal itu.

    Sedangkan yang dari saya dengar sih film ini juga pendanaannya susah banget. Udah harus minta2 ke Rotterdam (Hubert Bals), dan harus nyari dana dari private investor sana sini. Kasihan deh saya, it’s just that…these are TALENTED people, and they’re dedicated to making quality films. Film2 yang seharusnya mengangkat nama Indonesia di kancah perfilman dunia kok malahan nggak digubris sama publik. Negara kita memang sudah keblinger.

    Sungguh sayang, film2 yang berkualitas dari Indonesia mendapatkan support yang teramat sangat minuscule dari masyarakat dalam negri. Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak2 seumuran saya (umur 20-an) yang BUKAN anak2 film yang membicarakan tentang film2 Indonesia yang boleh dikatakan ‘berstandar’ (Opera Jawa, Fiksi, trus film2nya Garin Nugroho yang saya harus nonton di luar Indonesia malahan, boro2 di bioskop dalam negri).

    Saya setuju sama pendapat anda, kelihatannya kalo disuruh pilih, saya milih ini dibanding Laskar Pelangi. Laskar Pelangi memang bagus, tapi saya rasa 60% dari kesuksesannya adalah karena Miles films lebih berkocek tebal dan lebih gencar promosinya ke luar Indonesia (sampai2 dapat nominasi Asian Film Awards tahun lalu). Walaupun sudah segencar inipun, Laskar Pelangi masih jauuuuuh kalah populer dibanding sama film2 picisan (namun ber-budget tinggi) dari Thailand. Ini yang bikin saya panas.

    Kalo bicara soal Drama, coba deh lihat film “Love of Siam” produksi Thailand tahun lalu. Film yang menurut saya bagus tapi biasa2 aja ini mendapat sambutan yang meriah sekali di Taiwan, Hong Kong, Singapore, bahkan di kalangan masyarakat Asia di USA dan Australia. Kenapa? karena film ini bener2 TERPOLES. pemerannya cantik-ganteng dan lumayan berbakat, ceritanya bagus, dan nilai produksinya sangat tinggi. Dan yang lebih penting lagi, temanya universal dan mudah dicerna. Makanya, walaupun ini film Thailand, namun bisa disukai oleh orang2 Taiwan, HK, dll.

    Sebenarnya film Laskar Pelangi juga memiliki semua yang dimiliki “Love of Siam”, namun mengapa kok reception-nya di kancah perfilman Asia tetep aja suam suam kuku. Apa masalah dana untuk promosi yang jadi kendala?

    Banyak sekali film2 yang sebenarnya nggak sangat bagus2 amat seperti “Slumdog Millionaire” tapi toh bisa menang oscar, kenapa? Menurut saya karena HYPE nya gede banget. Sebelum film ini selesai principal photography aja hype-nya udah segede gaban. Dan hype ini nggak datang dengan sendirinya, there are people who created this hype!

    Sineas2 dari Thailand sudah paham betul tentang pentingnya sebuah HYPE untuk kesuksesan film. Makanya mereka dengan segala cara memasukkan hype2 tentang film produksi mereka ke masyarakat perfilman di Asia (bahkan karena Thailand sukses besar industri perfilman-nya, Asia sih udah nggak level lagi buat mereka. They’re aiming BIG. Cannes. Venice. Hollywood.) Sedangkan sineas2 kita, boro2 hype di luar negri. Diterima masyarakat lokal aja udah bersyukur.

    Sebenarnya, Miles film dan Laskar Pelangi-nya itu sudah ON THE RIGHT TRACK. Lihat aja film2nya Miles – Laskar Pelangi, Gie, dll…semuanya pembuatannya serius, dananya cukup besar, art direction & sinematografi-nya gak kalah sama film2 luar, dan yang paling PENTING, di-shoot pake 35 mili (muak saya ngeliat film2 Indonesia ala sinetron yang shootingnya cuma pake 16 mili!) jadi kesannya ‘serius’. Film itu nggak cuma harus bagus, tapi juga terpoles. Liat aja Ada Apa dengan Cinta. Padahal apa bagusnya sih ceritanya? Biasa aja kalo menurut saya. Tapi film-nya rapi, apik, pemerannya menarik…makanya bisa sampe rilis di Jepang (plus rilis DVD di Jepang pula). Miles film dalam hal ini memang patut diacungi jempol. They’re ahead of other Production houses in Indonesia as far as I’m concerned. Kalyana Shira juga OK banget.

    Saya sebagai peminat film cuma bisa duduk bengong bin frustrasi. Kapaaaan sih masyarakat Indonesia BANGUN dan sadar dari pengaruh2 film seks murahan dan pocong dan sundel bolong. Kalo bukan kita yang menyupport film2 berkualitas kayak Jermal ini, siapa lagi? Mungkin suatu hari nanti film2 Indonesia juga bisa IN DEMMAND di bioskop2 Taiwan, Hong Kong, dll…bahkan banyak yang mau bikin remake-nya di Barat sana…

    Sorry kalo komentarnya kepanjangan! Hehehe.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: