h1

Java Jazz 2009, serasa nonton konser rock

March 10, 2009

javajazz2009Java Jazz 2009 sudah berlalu dengan sukses (untuk panitianya). Soalnya dengar2 tidak kurang dari 80000 tiket terjual. Dengan asumsi harga tiket termurah alias 250000 rupiah, hitung sendiri berapa pendapatan dari penyelenggara. Itu belum termasuk tiket untuk special show dan pendapatan dari pihak sponsor. Jadi kali ini panitia penyelenggara menangguk untuk besar sekali.

Untuk penonton bagaimana? Terus terang mixed feeling. Untuk itu akan saya bagi dalam beberapa kategori.

Line up artis

Line up artis terus terang asik, walaupun ada bagian yang saya harapkan ada, tidak muncul, misalnya Latin Jazz. Memang ada Ivan Linz dan Pascal Moreiles yang mewakili Brasil, tapi yang dari Cuba gak ada. Jadi kali ini agak kehilangan jazz yang penuh perkusi dan gitar spanyol.

Bahkan beberapa nama papan atas seperti Mike Stern dan Harvey Mason cukup untuk memberi jaminan mutu untuk festival ini. Sayangnya ada beberapa nada miring (termasuk saya) dengan kehadiran artis seperti Brian McKnight yang lebih R&B ketimbang jazz. Begitu pula dengan kehadiran band lokal seperti Slank dan Afgan. Mau ngapain mereka di event jazz. Saya gak nonton semua pertunjukan mereka, jadi tidak bisa memberikan laporan pandangan mata. Tapi kayaknya mereka dihadirkan sebagai crowd pleaser, terlepas dari kandungan musik mereka. Point: 4/5

Sound

Saya nonton Tom Scott dan Ivan Linz di hari kedua. Sound systemnya superb. OK banget. Semua kejernihan dan kerenyahan khas musik jazz tertangkap. Tapi pada pertunjukan Tohpati, settingannya masih kurang pas sehingga suara saxophone yang dibawakan oleh Eugene tertutup oleh drum dan keyboard. Dan yang paling parah adalah settingan di lobby yang terdiri dari 3 stage. Parah, suaranya pecah, lebih pas buat settingan band musik pop ketimbang jazz.

Nampaknya settingan pas atau tidak tergantung dari band yang perform. Panitia gagal mengantisipasi ini. Point: 3/5

Panggung dan Layout

Saya nonton di panggung Assembly 1 sampai 3. Bagus. Sound OK, setting ruangan OK. Yang agak mengganggu adalah yang di ruang Cendrawasih 3. Lantainya triplek! Apa panitia gak keburu untuk menutupnya dengan karpet?

Layout-nya bagus dan jelek. Bagus karena di satu area ada beberapa panggung, sehingga waktu satu panggung main, yang lain bisa sound check tanpa mengganggu panggung yang sedang main. Di pihak lain ini juga berarti pemborosan. Masak di Lobby sampai ada 3 panggung? Kan gak mungkin 3 stage main bareng.

Yang paling mengganggu adalah jalan dari satu stage ke stage lain. Ada beberapa jalur yang terlalu sempit sehingga lebih mirip pemandangan di pasar dibandingkan dengan festival jazz. Point: 2.5/5

Panitia

Ini yang paling parah.

Pertama, panitia tidak melarang orang merokok di dalam gedung berAC. Asap terlihat mengambang di seluruh ruangan. Bagi yang tidak merokok ini adalah penderitaan.

Kedua, panitia menyita makanan dan minuman yang dibawa dari luar. Maksudnya mungkin baik bahwa orang tidak nyampah. Tapi ini adalah seperti membunuh nyamuk dengan bom. Jika ingin orang tidak nyampah, ya larang dan tindak yang nyampah. Dan toh peraturan ini tidak berhasil juga karena sampah ternyata tetap dimana2.

Ketiga, panitia membawa banyak sponsor yang membuat banyak stand. Stand2 tersebut lebih banyak mengganggu jalannya acara ketimbang membantu. Kalau standnya adalah stand yang jualan CD artis yang manggung itu sangat bisa diterima. Tapi kenyataannya adalah stand produk yang tak henti2nya menawarkan barang yang gak ada kaitannya dengan musik jazz. Bayang anda ditawarkan; asuransi mas, kartu kredit mbak, pasang TV kabel pak, pasang internet bu. Lah ini apa bedanya dengan di mal?

Keempat, tiket oversold. Kapasitas gedung tidak cukup untuk menampung seluruh penonton. Overcrowded kayak nonton konser rock. Bagi yang biasa menikmati jazz dengan suasana santai, ini sangat mengganggu.

Kelima, stand makanan tidak cukup. Lah panitia ini gimana. Orang bawa makanan dilarang. Yang jualan makanan gak cukup. Maunya apa sih?

Keenam, pesan sponsor. Kebetulan kali ini Kementrian Lingkungan Hidup ikut menjadi sponsor yang membawakan tema ZERO WASTE untuk acara ini. Di beberapa tempat disediakan tempat sampah yang terpilah antara sampah organik, anorganik, plastik, kertas dan cairan. Sejauh pengamatan saya HAMPIR TIDAK ADA yang memanfaatkannya, termasuk panitia. Di sana-sini juga masih disediakan tempah sampah konvensional yang nyampur semua. Itu pun masih banyak orang yang membuang sampah di luar tempat sampah. Lagi pula sponsor masih bagi2 brosur kertas yang sebagian besar pasti jadi sampah. ZERO WASTE dari Hongkong!

Ketujuh, informasi. Ini juga parah. Masak dengan bayar tiket 250000 kita gak dapat brosur dan layout acara? Untuk bisa dapat jadwal acara kita harus (a) membeli starter pack AXIS (yang jadi sponsor) seharga 6000 atau (b) membeli majalah MUSIC (yang juga jadi sponsor) seharga 20000. Bukan masalah besaran uangnya, tapi sungguh tidak etis dengan harga tiket selangit kita tidak mendapat jadwal acara yang dibagikan gratis. Berapa sih biaya cetak brosur? Tambahan lagi, jadwal acara tidak terpampang secara besar di tempat2 strategis, begitu pula dengan peta. Jadilah banyak penonton kebingungan dengan mencari panggung dan artis favoritnya manggung di mana.

Point: 1/5

Toilet dan Kebersihan

Secara umum lumayan. Tapi tetap ada toilet yang pintunya gak bisa dikunci. Yang nyampah tisu di toilet juga banyak sehingga bikin mampet. Nampaknya tidak ada toilet attendance yang menjaga dan terus-menerus membersihkan toilet. Point: 2/5

Total experience: 2/5

Memang penampilan musisi jazz-nya sangat memuaskan. Tapi panitianya sangat tidak memuaskan sehingga mengurangi kenikmatan menonton musik jazz. Kesimpulan, tahun depan saya gak akan balik ke Java Jazz. Mau nonton JakJazz saja.

3 comments

  1. Hmmmm…sama bosss…kalo tahun depan tetep di JCC…gua positip ngga dateng….. mau nonton musik penghibur hati kok musti sengsara dulu….ngantri lama, tetep desek-desekan dan ktutupan mulu ma orang motret…..

    taon depan sih katanya udah di arena PRJ kemayoran. cuma tempatnya gak strategis. susah kendaraan. secara gw gak punya mobil sendiri.


  2. Walah, konser rock di jepang aja masih jauh lebih rapi dan teratur tuh. Jadi inget waktu dulu nonton Jazz Goes To Campus di UI. Tapi karcis masuk JGTC murah, jd rada maklum juga. Ini udah mahal2 bayar kalau kurang memuaskan rasanya gimana gitu.

    iya nih. payah….. jadi jera


  3. busjet, ternyata lo demen ama jazz ya On. Kirain cuman demen ama Wings ama Slam huehehe😛😀

    btw, gue jd inget klaimnya j-co yg bilang bhw donat itu cocok dimakan bareng ama kopi (smoga gue ga salah inget). Apa mgkin dlm kasus cerita elo itu musik jazz cocoknya didengerin dlm kondisi lapar ya:mrgreen:

    iya kali. secara musik jazz kan musiknya kaum budak. ya pasti main musik pas laper lah…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: