h1

Jagad X Code (X dibaca Kali)

February 17, 2009

jagadxcodeSaya mulanya tertarik untuk melihat film ini karena melihat musiknya, yang ditata oleh Djaduk Ferianto. Minimal saya mau menikmati musiknya lah… Tapi rupanya secara keseluruhan tidak mengecewakan, walaupun belum maksimal.

Film ini adalah sebuah film komedi, bercerita tentang tiga anak muda Kali Code, yang karena tuntutan ekonomi, menjadi penjahat kecil2an, untuk menjambret tas yang isinya ada flashdisk yang berisi data sensitif. Tapi dasar anak kampung, gak tau apa itu yang namanya flashdisk, komedi ini bermula (kalau aku bilang sih, emang dasar goblog, kalau gak tau ya bawa aja seluruh isi tas, gitu aja kok repot, dasar goblog mau sok pinter).

Tapi namanya saja film komedi, jadi tak perlu terlalu diseriusi logikanya. Yang saya kritik adalah akting pemainnya. Ringgo gagal memerankan gaya anak Jogja, gayanya terlalu Jakarta. Begitu pula dengan Mario Irwiensyah. Yang saya puji adalah Opi Bachtiar. Dialah bintang sebenarnya film ini. Aktingnya natural disertai beberapa adegan yang memang komikal. Andaikan kedua aktor yang saya sebut didepan digantikan 0leh aktor lain yang bisa lebih pas memainkan gaya anak Jogja, film ini akan menjadi lebih bagus. Yang paling mengecewakan justru adalah Tio Pakusadewo. Perannya sebagai preman di film Quickie Express yang baik sekali, tidak terlihat di film ini, padahal perannya sama2 preman. Entah sutradaranya salah mengarahkan atau skripnya memang tidak mendukung.

Secara skrip memang tidak istimewa, tapi lumayanlah. Film ini nampaknya juga tidak berpretensi jadi film komedi yang terlalu serius untuk dibahas, sekedar untuk dinikmati saja. Beberapa adegan komikal saya pikir cukup lucu tanpa harus jatuh ke dalam slapstick. Ia juga tidak jauh untuk terlalu masuk ke dalam film romantis sehingga merusak komedianya. Secara umum, film ini di atas rata2 film komedi Indonesia.

Di tengah film sempat ada upaya untuk mengenalkan sosok tokoh Mangunwijaya yang telah berjasa banyak sehingga penduduk Kali Code dapat hidup lebih layak dengan membangun tempat tersebut. Mungkin kalau ide ini bisa dieksplor lebih jauh ke dalam skrip, film ini bisa jadi lebih mendalam, bukan hanya sepintas lalu

Dan yang paling asik saya akui memang musiknya yang khas Djaduk. Sayangnya porsi musik dalam film ini masih terlalu sedikit. Djaduk masih mendapat lebih banyak tempat di film Daun di atas Bantal-nya Garin. Namun kita masih mendapatkan asiknya musik film ini terutama pada adegan yang menggunakan musik dari alat-alat dapur. Asik banget!

Akhir kata, not bad at all, and could have been better…

Film: 3/5

Skrip: 2.5/5

Akting: 3.5/5

Sutradara: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: