h1

City of Ember

December 11, 2008

emberFilm ini adalah adaptasi dari tetralogi Jeanne Duprau, The Book of Ember, buku pertama: The City of Ember.  Saya belum baca bukunya, ada niat beli sih, nanti kalau udah baca saya review.

Sebagai sebuah awal cerita, film ini cukup memberi potensi. Di saat bumi sudah mulai tidak bisa didiami, para saintis yang paling pintar mendesain sebuah kota bawah tanah sehingga terbebas dari polusi di permukaan bumi dan hidup secara total dari sebuah pembangkit listrik yang didesain dapat beroperasi ratusan tahun. Diharapkan setelah ratusan tahun kemudian setelah bumi sudah bersih (mirip WALL-E, tapi bedanya manusia gak ke luar angkasa, tapi mengungsi ke perut bumi), manusia bisa naik lagi ke permukaan.

Tapi yang menarik adalah, supaya manusia tetap bahagia tanpa tahu bahwa mereka pernah tinggal di permukaan bumi, mereka dipisahkan sejak kecil dari generasi pertama, sehingga mereka tidak punya memori pernah tinggal di muka bumi. Sebagai penjaganya ditetapkan seorang walikota, dan memegang sebuah kotak dan kuncinya yang baru bisa dibuku setelah 200 tahun, dan setelah itu mereka baru diberitahu bahwa mereka harus kembali ke permukaan bumi.

Tetapi masalahnya terjadi pada walikota ketiga, karena walikotanya mati mendadak dan tidak sempat meneruskan kotak tersebut ke walikota berikutnya, dan seluruh penduduk tidak tahu bahwa mereka sebenarnya harus kembali ke muka bumi setelah 200 tahun. Dan setelah 200 tahun, setelah dilupakan, terbukalah kotak itu, dan ceritanya pun dimulai…

Karena film ini memang didesain sebagai sebuah film remaja, ia tidak akan membuat kita terlalu berkenyit dahi. Karakter tokoh2nya meskipun cukup baik, tidaklah rumit dan berada di area abu2.
Tokoh jahatnya cenderung komikal. Ia juga tidak banyak bermain di area si-fi sehingga banyak yang tidak masuk akal.

Ide ceritanya terus terang sangat menarik, dan penggambaran tentang bagaimana sebuah kota didesain supaya bisa berfungsi juga menarik. Seluruh tata laksana kota didesain dalam sebuah buku suci. Dan mereka semua terkurung dalam kota ini, tanpa boleh keluar dari batas. Di luar kota, tak seorang pun yang tahu ada apa di sana. Selama generator masih berfungsi, semuanya hidup berbahagia.

Akting anak2nya juga lumayan, ditambah aktor senior seperti Tim Robbins dan Bill Murray. Penggambaran kota bawah tanahnya juga lumayan untuk sebuah film remaja. Tidak bisa dibandingkan sih dengan dunia dalam Lords of the Rings yang memang membuat kita berhenti bernafas. Lagi pula kota ini tidak didesain sebagai sebuah kota sempurna, melainkan lebih seperti tempat pelarian sementara.

Secara keseluruhan, not bad, untuk sebuah film remaja.

Total: 3.5/5

Akting: 3/5

Ide cerita: 4/5

Sutradara: 3.5/5

3 comments

  1. Dapet versi streaming, tapi masih jelek banget kualitasnya. maklumlah bajakan ngembat dari bioskop, suara para pemainnya rada berdengung. Ntar deh komentar lagi kalo udah nonton versi bagusnya. Tapi ide ceritanya memang menarik.

    aku pengen baca bukunya an. tetralogi. mantap kayaknyan.


  2. gue sempet pgn nonton ini di XXI tp trus batal krn ragu:mrgreen:

    btw, kalo judulnya diucapkan ama org tegal kyknya lucu banget. Terutama pd kata “ember” nya🙂


  3. Udah nonton juga akhirnya. Memang desain kotanya oke punya untuk kota penampungan. Sayang filmnya katanya kurang laku kayak Golden Compass, jadi nggak bakalan ada sequelnya.

    Aku jg lagi nyari e-book nya.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: