h1

Kita Punya Bendera

August 26, 2008

Film ini adalah sebuah film proyek idealis, di tengah perfilman indonesia yang kalau gak film horor, film komedi jorok atau film islami. Ia bagaikan air segar di tengah air butek perfilman nasional.

Film ini diangkat dari dunia anak2, yang di dalam dunia mereka sendiri melihat dunia dengan sederhana. Mereka tidak seperti kita orang dewasa yang sibuk mempersoalkan perbedaan agama dan keturunan. Dan konfliknya dimulai dari sebuah masalah sederhana bagaimana mengisi kolom “keturunan” di dalam kolom data siswa. Beberapa dari kita tentunya pernah mengalami kesulitan. Misalnya kalau kita ayah dari batak, kawin dengan ibu dari solo, yang ketemu kuliah di ITB bareng jadi lahir di Bandung, dan besar di Bandung sehingga fasih berbahasa sunda ketimbang jawa, apalagi batak. Nah, gimana tuh ngisinya? Pengalaman menarik lain bisa dilihat di blog ini misalnya.

Ide cerita dalam film ini menarik, meskipun eksekusinya terasa kurang di sana-sini. Yang pertama, yang paling mengganggu adalah sound editing dan mixing-nya. Dalam beberapa adegan suara musiknya menutupi dialog filmnya (entah kesalahan di pihak pembuat film atau operator di bioskop aku kurang ngerti). Di satu pihak permainan gitar yang diberikan Jubing memang fantastis. Namun dalam beberapa adegan terasa kurang pas. Begitu juga dengan suara “pew-pew” pada adegan lucu yang terasa mengganggu, mengingat ini bukanlah sebuah film komedi.

Yang kedua adalah kamera dan lighting, yang dalam beberapa adegan terasa kurang pas, misalnya shaking yang berlebihan. Beberapa adegan juga terasa terlalu gelap dan memberi suasana kurang pas. Gelap tentu saja tidak haram, asal pas dengan suasana yang ingin dibawa oleh film tersebut.

Yang ketiga adalah editing filmnya sendiri yang terasa masih kurang maksimal. Perpindahan adegan dan juga dialog dalam beberapa scene terasa mendadak dan dipotong, kurang continuous.

Yang keempat adalah casting. Film ini memakai banyak pemain tidak terkenal. Ini bukan hal yang tabu, seperti film Garin, Daun di atas Bantal, yang memakai pemain anak jalan Jogja beneran, dan hasilnya tetap bagus. Akting yang saya acungi jempol adalah Robby Tumewu yang sukses menjadi seorang engkoh pemilik warung makanan. Yang lainnya masih rata-rata, atau malah di bawah rata-rata. Mungkin ini malah kekurangan dari sutradara yang kurang tepat dalam mengarahkan para pemeran.

Tentang ide ceritanya saya acungi jempol untuk sutradara dan penulisnya Steven Purba. Ia membidik sasaran yang pas, pluralitas di dalam masyarakat Indonesia yang sebenarnya sudah menjadi keseharian yang tidak perlu dipersoalkan. Tapi entah mengapa birokrasi dan orang2 gak jelas yang masih mempersoalkan itu. Untuk itu mungkin kita perlu bercermin ke anak2 yang menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri yang lebih baik dari pada kita orang dewasa.

Film ini juga berhasil membawakan suasana yang ada pada anak SD pada umumnya: upacara bendera, mulai naksir2an dengan teman lain jenis, pulang sekolah bareng jalan kaki, yang jarang terlihat di film2 lain yang biasanya membawakan anak2 pada adegan orang dewasa yang terasa tidak wajar.

Kritik saya terhadap film ini memang semua adalah tentang teknik sinematografinya. Saya tidak tahu apakah ini terjadi karena keterbatasan dana. Tapi saya kira ini dana tidak selalu menjadi hambatan. Saya mengambil contoh film “Mayar” yang diproduksi oleh Fourcolours, yang diproduksi dengan biaya rendah, artis teman sendiri tanpa bayaran, tapi menghasilkan film yang berkualitas secara cerita maupun sinematografi. Bung Steven mudah2an bisa lebih meningkatkan lagi kemampuannya sehingga di lain waktu bisa membuat film yang lebih baik, untuk mengisi khasanah film di negeri ini yang mulai makin parah saja.

Yang terakhir adalah kritik saya untuk LSF. Kok bisa ya film ini dirating untuk Remaja? Bukankah film ini layak tonton untuk anak SD alias Semua Umur? Apa kriterianya sehingga jadi film untuk remaja? Karena bawa isu SARA? Jangan2 LSF lebih tidak dewasa dari anak2 yang memerankan film ini. Dan yang terakhir banget: salam dong buat ibu guru yang manis yang diperankan oleh Nurul Hidayati :p

Film ini masih diputar di Blitz Megaplex dan katanya sih bakal diputar juga secara layar tancap di sekolah2.

Film: 3/5

Sutradara: 2/5

Ide cerita: 4/5

Akting: 2.5/5

8 comments

  1. Dear Oni (sorry kalau salah tulis),
    Ulasan anda benar2 jujur. Ini sangat bagus untuk semua pihak yang terlibat dalam proyek idealis ini. Sorry lagi, saya Wulan, mamanya Bima yang bermain jadi Jarwo. Saya yakin Steven cs akan sangat menerima masukan anda. Dari sekian banyak comment tentang film ini, rasanya hanya anda dan koran sindo yang mengritik disamping memuji. Menurut saya pribadi kelebihan film ini terletak pada ide dan nilai ceritanya, kelemahan memang masih banyak, penilaian saya sama persis dengan anda, termasuk juga soal casting-nya. He..he..including my son. Semua tampaknya masih belajar. Buat saya, itu masih lebih baik dibandingkan insan2 film yang ‘terjebak’ dengan hantu dan sinetron2 yang memusingkan itu. Nah supaya Steven cs lebih maju, input seperti yang anda berikan memang perlu. Mestinya Steven juga baca ulasan anda ya. Semoga lebih banyak insan2 film idealis yang mampu berkreasi, menghasilkan film yang memang bergizi untuk kita.

    Wulan


  2. Ups, barusan saya tinggalin comment, ternyata di blognya steven sudah ada tulisan om Oni. Seperti yang saya duga, Steven sangat welcome dengan kritik om Oni.


  3. ya, saya setuju dengan review-nya. Masih banyak hal2 yang perlu ditingkatkan dari film ini. Namun sebagai film Indonesia, saya kagum karena tema yang diangkat sangat berbeda dengan tema film Indonesia pada umumnya, yang (mungkin) lebih mementingkan keinginan pasar daripada “mendidik” pasar agar mau lebih terbuka pada perubahan.

    thx link-nya🙂


  4. huahahaha sempet2xnya titip salam ke bu guru manis🙂

    btw, gue koq msh males ya nongton pilem indonesia di bingoskop. Terakhir beberapa taon yg lalu nongton film Reinkarnasi nya Dede Yusuf (yg kostum musuhnya koq ya mirip banget ama kostumnya Sauron di LOTR yg baru muncul kemudian hehe). Di bingoskop gue ketiduran tuh nongton itu🙂


    git, film ini gak bakalan masuk batam :p


  5. Apalagi aku. Batam aja nggak masuk, lebih2 ke jepun. Paling nunggu internet (hehehe.. kalo oni bilang tengkyu ke dvd bajakan, aku bilang tengkyu internet).
    Lagi nunggu laskar pelangi the movie nih..


  6. […] Review film-nya dari sisi sinematografi, bisa dilihat disini. […]


  7. halo..
    maaf telat banget,,
    tapi saya beneran kepingin banget nonton film ini.
    gmn caranya ya?
    ada yang bisa bantu?

    -haturtamkiyuh..


    bisa cek di blog pembuatnya.
    http://stevenscreen.blogspot.com/
    kontak saja langsung.


  8. BERMERAH DARAH BANGSAKU
    Pemutaran dan Diskusi Film

    Dengan tema nasionalisme dan identitas diri…
    Menampilkan:

    1. Film “Kita Punya Bendera”, karya sutradara Steven Purba

    Kita Punya Bendera, arahan sutradara Steven Purba dengan aransemen musik garapan seorang maestro solo gitar, Jubing Kristianto.

    Kita Punya Bendera ini menceritakan persahabatan sekelompok anak dari berbagai suku bangsa di sebuah Sekolah Dasar. Dikisahkan, Timmy seorang bocah keturunan Cina duduk di bangku 5 SD. Bersahabat akrab dengan Jarwo (Jawa), Nia (Bali) dan Romy (Batak).

    Pada saat ujian kenaikan kelas, semua murid harus mengisi formulir isian siswa yang salah satunya harus mencantumkan asal usul keturunan. Disilah konflik terjadi antara identitas diri Timmy dengan institusi pendidikan, dalam hal ini diwakili oleh sang guru. Timmy menulis keturunan Jawa, karena ia lahir di Jakarta dan Jakarta adalah bagian dari pulau Jawa.

    Ketika sistem pendidikan menyadarkan mereka akan adanya pembedaan berdasarkan etnisitas, para bocah ini justru menemukan hal mendasar yang mampu mempersatukan mereka.

    Maka dimulailah perjuangan para bocah untuk membantu Timmy menemukan jati dirinya. Tentu dalam kemasan dunia anak-anak yang terkadang lucu,lugu, polos, tetapi juga bisa mengharukan

    2. Video “Young Tourist From Near Countries”, karya sutradara Akbar

    3. Film “Nusantara”, karya sutradara Putri A Herludianto

    Kamis, 26 Februari 2009
    19.30 – 22.30
    Bioskop Kampus Ruang 9009
    Institut Teknologi Bandung
    Gratis dan terbuka untuk umum!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: