h1

WALL-E, Extraordinar-e Movi-e

August 19, 2008

Pixar kembali sukses dengan karya terbarunya, WALL-E. Seperti biasa yang saya tunggu dari Pixar adalah sebuah film dengan cerita yang menarik, bukan seperti film kartun lainnya yang hanya mementingkan kualitas gambar ditambah humor sana sini yang menghibur. Film2 keluaran Pixar benar2 memiliki cerita yang mendalam.

Sebagian besar review melihat WALL-E sebagai sebuah film yang membawa isu lingkungan dengan mengetengahkan WALL-E (Waste Allocation Load Loader-Earth Class), “seorang” robot pemadat sampah, yang mengumpulkan dan memadatkankan sampah lalu menyusunnya. Setting cerita mengarah pada 700 tahun setelah bumi ditinggalkan manusia karena sampah sudah membuat bumi terpolusi sehingga tidak layak dihuni. Jadilah WALL-E menjadi penghuni bumi dan dengan setia membersihkan bumi dari sampah selama 700 tahun.

Isu lingkungan memang terasa kental, tapi ada yang luput dari perhatian sebagian kritikus. Mereka tidak melihat sinisme Pixar (seperti halnya sinisme yang dihadirkan Pixar dalam film Cars yang mengkritik kita yang sudah lupa menikmati pemandangan di luar dalam perjalanan dengan mobil) yang menggambarkan bagaimana kondisi manusia yang hidup di luar angkasa dengan pesawat yang fully-automatic dikendalikan oleh robot dan komputer. Manusia tidak perlu berbuat apa2, hanya sekedar ongkang2 dan mengkonsumsi saja. Bahkan berjalan pun tidak perlu karena mereka hidup di atas kursi mengambang yang bisa membawa mereka kemana saja. Mereka bahkan kalau mau berkomunikasi tidak perlu bertemu muka karena bisa berkomunikasi lewat video-phone (seperti teknologi 3G sekarang). Dan mereka, generasi kesekian yang tinggal di dalam pesawat ruang angkasa, telah berevolusi menjadi makhluk couch potato yang tergantung 100% pada teknologi yang makin lama makin idiot, karena berpikir pun telah mereka serahkan kepada mesin. Dan semua hidup mereka mereka serahkan kepada sebuah perusahaan BnL yang mengatur seluruh hidup mereka. Mereka hanya perlu duduk manis, semua telah tersedia.

Pixar dengan telak telah mengkritik model kehidupan modern yang makin tergantung teknologi sehingga membuat kita tak bisa apa2 selain menjadi operator. Dan film ini sungguh membuat kita berpikir kalau nantinya generasi mendatang akan menjadi idiot yang tergantung teknologi seperti yang juga digambarkan dalam film Idiocracy.

WALL-E, sebuah robot yang secara tak sengaja terbawa ke pesawat ruang angkasa mereka, menjadi sebuah chaos yang mengubah ritme mekanik kehidupan mereka. Sebuah gangguan yang membuat one thing leads to another, akhirnya mengubah seluruh hidup mereka, membuat mereka bangun dari tidur mekanis mereka dan mulai mengambil keputusan. Dan akibatnya sejarah umat manusia berubah dan mereka memulai kembali peradaban manusia dengan meninggalkan “surga” dalam pesawat ruang angkasa yang mewah dan kembali ke bumi dan menanam sebuah “pohon kehidupan”.

Dan film ini ditutup dengan indah dengan ending title yang menggambarkan sejarah manusia kemudian setelah mereka kembali ke bumi dalam lukisan2, dari lukisan primitif di gua (karena manusia sudah lupa cara melukis, ha..ha..!) lalu lukisan gaya Sumeria, Mesir, sampai Renaissance dan Modern, dan ditutup oleh sebuah pelesetan lukisan Adam dan Hawa yang digambarkan dengan WALL-E dan EVE di bawah Pohon Kehidupan yang mereka selamatkan, dalam sebuah sepatu. Indah….

Jangan lupa, seperti biasa Pixar selalu menyuguhkan film pendek di depan. Kali ini adalah Presto, kisah seorang pesulap dan kelincinya yang lagi ngambek karena tidak diberi wortel!

WALL-E adalah film untuk semua umur, yang bisa dinikmati orang tua yang sudah kenyang asam garam hidup, orang muda yang sudah terlanjur hidup konsumtif, dan anak kecil yang bisa menikmati suara robot lucu dengan tingkah menggemaskan.

Film: 4/5

Skrip: 4.5/5

Animasi: 4/5

Sutradara: 4/5

5 comments

  1. Kenapa ya gue sampe skrg slalu males nongton kartun. Kungfu panda gue lewatin, yg ini jg males euy.


  2. On, website lo ini gue link ya🙂


  3. Salam Kenal Ya Bro…..!!!

    http://tertawa-yuk.blogspot.com/


  4. aduh ni film, mengharukan sekali… so sweet hehe


    tengkyu sudah berkunjung kesini


  5. […] tema apokaliptik yang paling tidak bisa diarahkan ke dua hal: harapan akan dunia baru (seperti pada WALL-E dan Knowing misalnya), atau kehancuran total tanpa harapan. Film ini tidak memberikan […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: