h1

Laporan dari Festival Jajanan Bango 2008

August 11, 2008

Festival Jajanan baru saja berlangsung di plaza selatan Senayan, jum’at dan sabtu kemaren. Mulanya saya ingin menyambanginya hari jumat sore sekalian mencoba peruntungan untuk mendapatkan jatah kambing guling gratis sebanyak 80 ekor (yang katanya masuk MURI, yang makin lama makin gak jelas kriteria rekornya, kalau bisa satu orang ngabisin 80 ekor kambing guling mestinya baru layak masuk rekor). Tapi akhirnya saya baru sempat datang keesokan harinya, itu pun udah agak malam.

Pertama masuk ke lokasi, kesannya rame banget. Untung di pintu masuk udah ada tenda informasi yang memberikan denah tenda, dan berbekal berburu di website, saya sudah tahu stan mana yang mau saya tuju: gabus pucung dan beautika (masakan menado). Begitu menuju stan gabus pucung, saya langsung kecewa karena gabus pucungnya habis. Langsung saya menuju stan berikutnya, beautika. Sayangnya stannya tidak seperti yang saya bayangkan, menunya tidak selengkap rumah makan menado yang saya bayangkan (mana mahal banget lagi, cuma secuil tumis bunga pepaya dan abon cakalang seharga 25 ribu!). Tapi ya sudahlah keburu laper dan melihat antrian tempe mendoan di sebelah yang panjang buaannget bikin ilang selera, akhirnya beli juga.

Perjuangan berikutnya adalah nyari tempat duduk. Tempat duduk berupa meja dan kursi di tengah plaza yang disediakan panitia tidak mencukupi. Mana pengunjung banyak yang kurang empati, yang nggak makan ikut nongkrong di kursi berlama-lama, padahal banyak yang tidak kebagian tempat duduk sehingga banyak yang standing party alias makan sambil berdiri. Untuk makanan yang ringan kayak siomay mungkin masih ok, tapi buat yang makan berkuah apalagi pake nasi, merupakan perjuangan tersendiri.

Sambil mencari tempat duduk, akhirnya saya balik lagi ke stan gabus pucung. Sebelum saya membeli saya dengan ramah ditawari “Makan di sini?” dan langsung saya jawab “Duduknya gak ada tempat.” Saya langsung ditawari untuk duduk di dalam stan. Tanpa tunggu saya pesan nasi dengan mujair. Pas mau mulai makan, ternyata pas gabus pucungnya mateng. Pucuk dicinta ulam tiba, langsung saya minta tambah gabus pucung. Ternyata rasanya seperti yang saya harapkan. Muannteeup! Top markotop! Gabus goreng berbalur kuahnya yang berwarna hitam, yang nikmat sekali kalau dicampur nasi. Kalau gak nimbang pengen nyoba jajanan lain, pasti minta nambah. Harganya pun cukup masuk akal, mujair ditambah gabus plus nasi hanya 20 ribu.

Setelah puas dengan jajanan pertama, saya pengen nyari jajanan seger. Untungnya saya memang bawa aqua dari rumah, sehingga tidak perlu beli air, lumayan agak hemat. Yang saya tuju pertama adalah es duren. Tapi dari jauh sudah terlihat antrian mengular. Ini juga bikin ilang selera. Sepengen2nya saya, kalau antri setengah jam, gak deh… Di sebelahnya ada stan lain yang agak sepi dengan minuman dingin berwarna merah bertuliskan AIR SEPANG. Karena penasaran saya beli. Lumayan juga, kayak wedang jahe tapi gak begitu keras. Akhirnya saya tanya minuman dari apa ini. Kata penjualnya, ini adalah minuman khas dayak, dari rendaman kayu sepang dan beberapa rempah2 seperti kapulaga. Enak juga.

Maksud hati pengan nambah jajan lagi tapi suasana tidak mendukung. Ramainya pengunjung tidak memberi tempat duduk yang layak dan nyaman. Suasananya lebih riuh dan berantakan ketimbang suasana jajanan tradisional pada umumnya. Mungkin karena saya datang pas malam, kalau siang gak tau deh apa juga seramai ini. Ditambah lagi dengan tempat makanan yang tidak memakai piring beneran tetapi piring kertas, plastik atau malah bahan tak ramah lingkungan seperti styrofoam. Di satu pihak memang lebih praktis pake bahan yang bisa dibuang dan tidak dicuci, tapi semuanya menjadi sampah. Saya juga tidak melihat tempat sampah di tempat2 strategis sehingga para pengunjung membuang saja ke bawah semua piring sendok yang telah mereka pakai. Keesokan harinya plasa senayan pasti menjadi lautan sampah.

Panitia mungkin tidak sampai kesana pikirannya, mereka lebih konsen membuat panggung megah dengan mengundang band terkenal yang pasti tidak murah, ketimbang membuat sebuah festival yang ramah lingkungan dan nyaman bagi pengunjung dengan tempat duduk yang cukup.

Dan yang aneh adalah sebuah band pembuka pada acara panggung malam jumat yang menyanyikan lagu d’massive. Karena kurang mendapat sambutan, vokalisnya berteriak, penonton ikut nyanyi dong, masak gak tau lagu ini. Untung aja saya gak pas di depan panggung. Kalau saya di sana, pasti saya balas teriaki, “Mas saya kesini mau makan, bukan ikutan nyanyi” :p

Total: 2.5/5

Makanan: 4/5

Variasi : 3/5

Suasana: 2/5

Kebersihan: 1/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: