h1

Naga Bonar, dari 1 jadi 2

May 21, 2008

Ada baiknya memang film ini dirilis ulang. Pertama, mengambil momen hari kebangkitan nasional. Kedua, biar orang tahu perbandingan antar Naga Bonar yang pertama yang kedua. Tulisan ini adalah sebuah upaya untuk memahami perbedaan itu.

Naga bonar yang pertama, besutan Asrul Sani memang sarat nuansa satirnya. Ia menyikapi revolusi fisik RI pasca proklamasi dengan berbeda. Ia tidak melihatnya dengan penuh heroisme melainkan dengan memunculkan seorang copet yang menjadi jendral. Meskipun dibawakan dengan komedi, tetapi fakta yang disampaikan adalah begitu adanya (Bandingkan dengan Burung Burung Manyar-nya Romo Mangun yang juga melihat revolusi fisik dengan kritis). Ini adalah sebuah masa di mana tidak ada keteraturan. Siapa yang bersenjata bisa berkuasa.

Di lain pihak, Asrul Sani juga memperlihatkan betapa pun “berkuasanya” Nagabonar, ia tetap anak Mama. Ia bisa jadi memimpin di medan perang, tapi kalau ibunya sudah memerintah dia untuk mencari sirih, ia tak bisa tidak mematuhinya! Di sinilah keluarbiasaan skrip tulisan Asrul Sani, yang dengan pintar menyelipkan unsur ini ditengah kritiknya terhadap revolusi fisik yang kebablasan.

Nagabonar jadi 2, yang dibuat 20 tahun kemudian, memang bukan filmnya Asrul Sani. Saya lebih melihatnya sebagai filmnya Deddy Mizwar, yang memang menjadi sutradaranya (tanpa ada maksud merendahkan atau meninggikan salah satu). Saya makanya tidak terlalu merasa film ini bisa menjadi kelanjutan dari Nagabonar yang pertama. Penulis juga dibawa oleh Deddy Mizwar, yang diambil dari penulis Kiamat Sudah Dekat, Musfar Yasin. Aroma islami juga diusung di dalam seri ini (dengan adegan buku La Tahzan misalnya). Ini tidak perlu diherankan mengingat Deddy Mizwar telah mulai membawakan sinetron dengan nilai Islami yang baik seperti Lorong Waktu, mencoba menyaingi film2 islami yang lain yang lebih cenderung ke mistik. Meskipun demikian, sinisme yang muncul di Nagabonar yang pertama tetap di jaga.

Kalau mau dilihat kekurangan dari Nagabonar yang kedua, itu terletak pada pemainnya. Tora Sudiro terlihat tidak bisa mengimbangi Deddy Mizwar. Untung saja ada Lukman Sardi yang membawakan peran ustad sekaligus sopir bajaj dengan baik.

Hanya saja yang sedikit kusesali adalah over-ratednya film Nagabonar jadi 2 di tengah banyaknya film2 hantu di Indonesia. Kemilau film ini yang sebenarnya tidak terlalu memukau terlihat jauh lebih kinclong di tengah film2 gak jelas lainnya, yang membuahkan piala Citra sebagai film terbaik. Yang kunilai luar biasa dari film sekuel ini adalah Lukman Sardi, yang memang layak dianugerahi citra. Skenario-nya menurut saya masih kalah kalau dengan Mengejar Mas-mas (yang mungkin tidak dimenangkan mengingat isu yang diangkat terlalu kontroversial).

One comment

  1. Mas Oni, aku bingung baca kalimat terakhir, kayaknya ada kata yang hilang : Skenarionya menurut saya masih (?) kalau dengan mengejar Mas-mas….


    bener, kurang satu kata



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: