h1

Kawin Kontrak, mending ngontrak daripada nonton

January 22, 2008

kawin.jpgSaya memang hanya nonton film ini karena iseng aja, pengen tau gimana sih perkembangan film Indonesia di luar sineas-sineas unggul yang biasa berjaya di festival. Sayangnya, harapan saya masih belum terpenuhi. Memang membuat sebuah film tidak sama dengan membuat sebuah guyonan. Film membutuhkan sebuah rangkaian cerita yang bisa mengikat kita di kursi selama lebih dari satu jam, dan itu bukan sebuah upaya yang mudah.

Mulanya kupikir film ini cukup menjanjikan sebagai sebuah film komedi saru. Kawin kontrak memiliki potensial yang bisa digali kalau mau, yang gagal digali oleh penulis dan sutradara. Humor-homornya tidak segar seperti yang sukses dilakukan oleh Quickie Express. Ia banyak mengandalkan slapstick tanpa bertumpu pada cerita.

Di lain pihak usaha untuk membuat film ini “meaningful” justru makin merusak film ini. Kalau mau buat film komedi norak, buat aja film komedi norak yang buat orang ngakak tanpa pretensi membuat film yang bermakna. Itu lebih afdol. Sepertinya Ody Harahap masih perlu banyak belajar.

Yang saya kasih poin plus cuma Lukman Sardi, di tengah semua kejelekan film ini, perannya tetap saja prima. Sayangnya kontribusi ia seorang tidak bisa mengangkat skenario yang kedodoran.

Saran saya, bila anda mengharapkan kualitas dari sebuah film, lewati saja film ini, kecuali anda lagi pengen ketawa saru seperti nonton komedi sutra di TV.

Sutradara: 2/5

Skenario : 1/5

Akting: 2/5

Total: 2/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: