h1

Golden Compass, Prinsip atau freewill

January 9, 2008

golden.jpgSebuah film epik yang dibuat berdasarkan buku kembali ditelurkan Hollywood, kali ini dari buku trilogi Philip Pullman, The Golden Compass. Film ini mau mengulangi kesuksesan film epik yang dimulai oleh Lord of the Rings, yang telah membuat sebuah standar film epik kontemporer, Jika dibandingkan dengan dengan Narnia dan Bridge to Terabithia, film ini lebih unggul. Pertama, ia tidak terjebak untuk berlama-lama sehingga membosankan, dan kedua, casting yang lebih baik.

Aku sendiri sebenarnya lebih suka mengelompokkan film ini diluar film epik, yaitu dalam genre film yang menggambarkan pertarungan antara penguasa otoriter dan pecinta kebebasan, seperti yang diusung film V for Vendetta, dan Equilibrium, yang cukup bagus, atau yang gagal seperti Ultraviolet.

Simbol yang dipakai sebagai penguasa otoriter dalam film ini adalah Magisterium, sebuah nama yang cukup tendensius. Magisterium, dalam arti sebenarnya, adalah kuasa mengajar (alias menafsirkan kitab suci secara benar) oleh gereja. Jubah yang dipakai para anggota Magisterium juga mencerminkan petinggi-petinggi gereja. Bisa dilihat bahwa film ini memang menyindir otoritas kebenaran yang dimonopoli oleh satu pihak, dan rakyat, sebagai bawahan yang patuh, cukup menerima begitu saja kebenaran sebagaimana diajarkan. Semua dilakukan demi keteraturan dan kedamaian, karena mereka berpikir bahwa jika manusia diberi kebebasan, yang ada hanya kekacauan.

Di belahan yang lain, ada para pecinta kebebasan, para freethinker, memperjuangkan kebebasan berpikir, walaupun tahu resiko yang dihadapi dengan adanya kebebasan, yaitu perselisihan, perang, kekacauan dan kerusakan, semata-mata karena kalau manusia kehilangan kebebasannya, ia berhenti menjadi manusia.

Dari sisi pemainnya, Dakota Blue Richards, si pendatang baru tidaklah mengecewakan, meskipun belum mampu melampaui si bintang jenius Dakota Fanning. Pengisi suaranya juga luar biasa, Sir Ian McKellen yang memberikan wibawa pada sang beruang kutub Iorek Byrnison. Begitu pula dengan Freddie Highmore yang mengisi suara Pan, daemon milik Lyra. Sang koboi aeronaut juga diperankan dengan meyakinkan oleh Sam Elliott.

Kekurangan yang membuat film ini belum mampu menyaingi Lord of the Rings, adalah karakternya yang kurang mendalam. Dua jam memang terlalu singkat untuk itu. Di lain pihak jika ingin mengejar keuntungan dari penonton anak-anak, film tiga jam akanlah terlalu lama, jadi di sini ada sebuah dilema.

Secara keseluruhan, film ini tidaklah mengecewakan, meskipun belum mampu memunculkan semua potensial yang diberikan oleh buku aslinya.

Total: 3/5

Sutradara: 3/5

Skenario: 3/5

Akting: 4/5

Visual: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: