Ada dua nama Michael dalam dunia penyutradaan film action Hollywood. Yang pertama adalah Michael Bay, dan yang kedua adalah Michael Mann. Yang pertama terkenal dengan film2 aksi dengan visual effect yang memanjakan mata tanpa memperhatikan cerita, sehingga mendapatkan julukan action porn (film porno kan orang gak lihat ceritanya kan, yang penting action-nya, bener gak).
(sekedar catatan, ada satu sutradara lagi yang sering buat film porno, yaitu Roland Emmerich dengan disaster porn-nya).
Michael Mann, kali ini menyuguhkan action realistis dengan latar belakang Chicago tahun 1930-an, golden era-nya kejahatan di Amerika, karena kejahatan tidak bisa dikejar lintas perbatasan. Cerita ini juga dilatari awal berdirinya FBI yang dikepalai Edgar J. Hoover, yang mengubah sistem hukum pemberantasan kejahatan Amerika. Di tengah semua kisah ini, berdiri John Dillinger, penjahat yang paling ditakuti di Amerika di masa itu, yang dikenal sebagai Public Enemy #1, namun ia juga dilihat sebagai Robin Hood, karena mengembalikan uang nasabah dari bank yang dirampoknya. Read the rest of this entry ?


Sudah lama kita tidak disuguhi film perang Indonesia di layar bioskop. Kita2 yang sudah agak berumur pasti masih ingat dengan si Temon dalam Serangan Fajar, lalu Tjoet Nja’ Dhien, November 1928, dan Janur Kuning. Beberapa di antaranya memang film propaganda, namun bagaimana pun secara sinematik mereka adalah film yang baik. Untuk mengobati itu, kita patut menunggu film Merah Putih, yang kalau tidak salah akan tayang tanggal 13 Agustus 2009 nanti.
Saya memang tidak terlalu berharap banyak dari film ini, mengingat bukunya yang biasa2 saja menurutku. Cerita dari buku ini ibarat sinetron yang memanjang2kan cerita supaya tidak cepat habis. Tidak ada perkembangan penokohan yang cukup berarti untuk membuat cerita ini menarik, lagi pula endingnya yang sepertinya memang disiapkan untuk menuju sekuel terakhir buku ke-7. Kelebihan serial Harry Potter seperti kejutan2 sama sekali tidak muncul dalam seri ini, kecuali di ending yang sebetulnya tidak terlalu mengejutkan kalau anda memang pecinta buku fantasi sejati (itu adalah plot yang biasa terjadi). Kesemuanya ini membuat sulit sutradara mana pun untuk mengubahnya menjadi sebuah film yang menarik.
Film ini terlambat masuk Indonesia. Bukunya sudah terlebih dahulu beredar terjemahannya, diterbitkan oleh Gramedia. Resensi ini tidak berhubungan dengan bukunya, karena saya memang belum baca, melainkan hanya berhubungan dengan filmnya.