Mau tidak mau semua penonton film keluaran studio Ghibli punya ekspektasi tersendiri terhadap film2 keluaran studio ini. Dua nama besar studio Ghibli yaitu Hayao Miyazaki dan Isao Takahata seperti jaminan mutu untuk sebuah film kartun berkualitas, baik yang magical dan kreatif seperti Miyazaki, maupun yang kelam dan realis seperti Takahata.
Kali ini adalah barisan kedua (atau cadangan yah?) dari studio Ghibli yang turun, yaitu Goro Miyazaki, anak dari Hayao Miyazaki. Ia nampaknya belum bisa mengarahkan film sekelas senior-seniornya. Sentuhan khas studio Ghibli belum terlihat dalam film ini, di luar tata gambar dan tata suaranya. Read the rest of this entry ?


Aku tidak akan seperti kritikus lainnya yang membandingkan novel grafisnya dengan filmnya. Di satu pihak tidak fair, karena sebuah film adalah sebuah karya seni yang berbeda dengan buku, dengan kelebihan dan kekurangannya. Di lain pihak, emang gue belum baca novel grafisnya.
Di luar pengetahuanku, di Indonesia ada yang juga menganut Civil Disobedience seperti yang ditulis oleh
Film ini kurang mendapatkan pujian dari kalangan kritikus, kecuali dari
Sebenarnya film ini sudah beredar lama, tapi tidak masuk di Indonesia. Kalau mau dicari hanya ada dalam VCD/DVD.