Kalyanashira kembali menghadirkan sebuah film bertema perempuan setelah Berbagi Suami. Kali ini dibesut oleh empat perempuan sekaligus sebagai sutradara dan mengusung empat cerita berbeda, di empat belahan tempat yang berbeda dengan cerita yang berbeda tentunya. Yang sama adalah semuanya adalah cerita dari sudut pandang perempuan.
Penggambaran banyak cerita dalam sebuah film memang sudah sering dipakai di beberapa film, dan umumnya menghasilkan efek yang menakjubkan. Untuk menyebut beberapa di antaranya yang bagus: Traffic, Babel, Amores Perros, Pulp Fiction, dan yang paling baru dengan kolaborasi 22 sutradara dengan 18 cerita, Paris, je t’aime. Read the rest of this entry ?


Saya memang hanya nonton film ini karena iseng aja, pengen tau gimana sih perkembangan film Indonesia di luar sineas-sineas unggul yang biasa berjaya di festival. Sayangnya, harapan saya masih belum terpenuhi. Memang membuat sebuah film tidak sama dengan membuat sebuah guyonan. Film membutuhkan sebuah rangkaian cerita yang bisa mengikat kita di kursi selama lebih dari satu jam, dan itu bukan sebuah upaya yang mudah.
Sebuah film epik yang dibuat berdasarkan buku kembali ditelurkan Hollywood, kali ini dari buku trilogi Philip Pullman,