Juli 4, 2009
Film ini terlambat masuk Indonesia. Bukunya sudah terlebih dahulu beredar terjemahannya, diterbitkan oleh Gramedia. Resensi ini tidak berhubungan dengan bukunya, karena saya memang belum baca, melainkan hanya berhubungan dengan filmnya.
Ide cerita film ini sebenarnya cukup kuat: bahwa ada beberapa manusia yang dianugerahi Silvertongue, apa pun yang mereka baca dari sebuah buku cerita akan menjadi kenyataan. Tapi sayang ekplorasinya kurang mendalam. Jadinya sekedar cerita penjahat dan jagoan, dan jagoan menang pada akhirnya. Tidak ada plot yang memberi kejutan, atau ending yang menarik. Biasa… Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan fantasi, inkheart, resensi film | 4 Komentar »
Juni 30, 2009
Bioskop Jakarta benar2 tersihir oleh Transformers. Ketika saya mau nonton di f-X, empat studio semuanya memutar Transformer 2, dipenuhi dengan anak2 SMP yang banyak ketawa ketiwi bahkan ketika adegan tidak ada yang lucu.
Sebenarnya aku juga tidak terlalu banyak berharap dengan film ini, terutama karena ada nama Michael Bay di kursi sutradaranya. Ia adalah orang yang membuat film yang menurutku salah satu film paling buruk sepanjang masa yaitu Pearl Harbor. Namun karena Transformer pertama yang cukup baik, aku berharap mungkin kali ini Michael Bay juga lumayan. Dugaanku salah, film ini buruk, meskipun mungkin masih tidak seburuk Pearl Harbor yang super panjang itu. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan action, resensi film, transformers | 3 Komentar »
Juni 26, 2009
Jarang film Indonesia, khususnya film anak-anak yang membahas olahraga, atau tentang anak-anak dalam menggapai cita-cita. Tema ini mungkin biasa atau malah sudah basi di kalangan film anak-anak Hollywood, namun di Indonesia ini memang barang langka. Di tahun ini kita disuguhi dua film dengan tema ini: Garuda di Dadaku dan King. Dan film yang pertama, Garuda di Dadaku tidaklah mengecewakan.
Keunggulan film ini adalah kesederhanaannya. Ia tidak membawa banyak misi, hanya menceritakan seorang anak gila bola saja, yang ingin jadi pemain nasional itu saja. Memang di dalam penggambarannya terkesan too good to be true sih, tapi sudahlah, ini kan cuma film… kalau mau serius buat dokumenter saja. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan film anak, film keluarga, film olahraga, garuda di dadaku, resensi film | Leave a Comment »
Mei 20, 2009
Bagi yang hobi makan2, Festival Bango 2009 telah tiba. Acaranya akan diadakan di tempat seperti biasa, Plasa Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu 23 Mei pukul 12:00-22:00 dan Minggu 24 Mei 9:00-18:00.
Sedikit tips mengingat pengalaman di Festival Bango tahun lalu:
1. Bawa kursi sendiri, kursi lipat kayak yang biasa dijual di stasiun2 kereta api Jabotabek, mengingat hampir pasti tempat duduk yang disediakan tidak akan cukup.
2. Bawa alat makan sendiri, bila perlu bawa rantang sendiri. Tempat makan dan sendok yang disediakan gak asik; tempat makan dari stereofoam, dan sendok plastik, kebayang kan makan daging alot pake sendok plastik dan piring stereofoam yang mleot2. Ada baiknya juga bawa tissue basah buat ngelap alat makan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Festival | yang berkaitan bango, festival jajanan bango | 1 Komentar »
Mei 4, 2009
Anda mungkin sudah tahu cerita2 vampirnya Anne Rice yang sempat difilmkan menjadi Interview with the Vampire dengan tokoh Lestat-nya. Begitu pula dengan film yang tidak begitu bagus Queen of the Damned yang juga diilhami oleh bukunya. Ia emang mbahnya cerita vampir, for newbies sorry, bukan Stephenie Meyer.
Kali ini ia merambah dunia yang meskipun terlihat bedanya langit dan bumi, namun seperti diakui Anne Rice dibukunya, ia selama ini menulis novelnya selalu dengan penelitian sejarah. Namun sejarah yang ditulisnya kali ini bukan sejarah sembarangan, sejarah Yesus sendiri, yang diimani oleh milyaran orang di muka bumi ini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Buku | yang berkaitan anne rice, resensi buku | Leave a Comment »
Mei 1, 2009
Wolverine, film ini diniatkan untuk me-reboot serial X-Men, seperti tendensi yang sedang ada di Hollywood (Batman Begins misalnya). Jika Batman berhasil, Wolverine gagal… Di satu pihak ia ingin menggambarkan Wolverine secara psikologis, namun dipihak lain ingin mempertahankan action khas superhero. Dengan skrip yang pas-pasan, jadilah sebuah film yang kosong.
Sebagai sebuah film hiburan, ia tidak gagal sebetulnya. Actionnya cukup menghibur dan secara visual juga mantap. Tapi ceritanya begitu klise sehingga mengurangi kenikmatan penonton yang berharap lebih. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan action, resensi film, superhero, x-men | 2 Komentar »
April 27, 2009
Mau tidak mau semua penonton film keluaran studio Ghibli punya ekspektasi tersendiri terhadap film2 keluaran studio ini. Dua nama besar studio Ghibli yaitu Hayao Miyazaki dan Isao Takahata seperti jaminan mutu untuk sebuah film kartun berkualitas, baik yang magical dan kreatif seperti Miyazaki, maupun yang kelam dan realis seperti Takahata.
Kali ini adalah barisan kedua (atau cadangan yah?) dari studio Ghibli yang turun, yaitu Goro Miyazaki, anak dari Hayao Miyazaki. Ia nampaknya belum bisa mengarahkan film sekelas senior-seniornya. Sentuhan khas studio Ghibli belum terlihat dalam film ini, di luar tata gambar dan tata suaranya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan animasi, ghibli, resensi film | 4 Komentar »
April 27, 2009
Aku tidak akan seperti kritikus lainnya yang membandingkan novel grafisnya dengan filmnya. Di satu pihak tidak fair, karena sebuah film adalah sebuah karya seni yang berbeda dengan buku, dengan kelebihan dan kekurangannya. Di lain pihak, emang gue belum baca novel grafisnya.
Film ini sendiri pasti tidak memenuhi ekspektasi sebagian besar penontonnya. Pertama, ia bukan film superhero biasa, dimana jagoan ngegebukin penjahat. Ia adalah sebuah superhero yang menggambarkan konflik internal di antara superhero itu sendiri. Kedua, film ini bahkan bukan tentang kebaikan melawan kejahatan seperti pakem film superhero biasa, ia mempertanyakan banyak hal yang filosofis, seperti apa sebenarnya manusia di dalam jagat ini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan action, alternate history, resensi film, superhero, watchmen | 2 Komentar »
April 17, 2009
Di luar pengetahuanku, di Indonesia ada yang juga menganut Civil Disobedience seperti yang ditulis oleh Henry Thoreau. Mereka adalah orang-orang Samin, pengikut Samin Surosentiko (1859-1914). Kisah mereka inilah yang coba diangkat film ini.
Secara ide, film ini sangat menarik, melihat bagaimana orang-orang Samin ini hidup di era modern di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, dengan menutup diri dari dunia luar dan tidak mau mengakui hukum di luar hukum yang mereka buat sendiri.
Ia dimulai dengan seorang peneliti dari Amerika yang ingin meneliti tentang masyarakat Samin. Sementara itu dua pelarian dari penjara juga bersembunyi di tengah masyarakat Samin dengan harapan bebas dari jangkauan hukum. Sementara itu seorang guru muda idealis (atau sok idealis) membantu sang peneliti sambil berjuang untuk “mencerdaskan” masyarakat Samin. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan film indonesia, resensi film | 3 Komentar »
April 16, 2009
Film ini kurang mendapatkan pujian dari kalangan kritikus, kecuali dari Roger Ebert. Roger Ebert sendiri menulis cukup banyak di blognya mengenai mengapa banyak kritikus tidak menyukai film ini.
Film ini mungkin agak sulit dimengerti oleh mereka yang tidak terbiasa dengan fiksi tema apocalypse (akhir dunia). Apalagi ditambah dengan beberapa konsep akhir dunia yang meskipun sering diberi label pseudosains tapi mendapat perhatian yang cukup besar umumnya dalam buku2 sains populer.
Salah satu kekuatan film ini adalah intensitasnya yang didukung oleh tata musik dan editing yang baik. Sudah lama saya tidak menikmati film yang se-intense ini dalam penggambarannya. Mungkin juga karena saya sudah tahu ide dasar dari film ini sehingga tersedot ke dalam alur cerita dan benar-benar bisa menikmati film ini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | yang berkaitan film bencana, resensi film, thriller | 7 Komentar »