November 11, 2009
Film ini memasang label yang pendek sekali, sehingga membuat kita bertanya-tanya tentang apa isinya. 9, itu saja. Namun dalam beberapa adegan awal, 9 tidak lagi menjadi sebuah magic label, karena sudah terjelaskan, meskipun kesimpulan akhirnya (yang agak mengecewakan tetap dipasang di akhir cerita).
9 adalah cerita tentang 9 makhluk (yang tidak jelas makhluk apaan) di tengah dunia pos-apokaliptik dimana tidak ada satu pun manusia (dan kayaknya binatang juga) tersisa, menyisakan mesin-mesin otonom yang menjelahi dunia yang hancur.
Gambar-gambarnya terus terang cukup menawan. Hanya saja gambarnya tidak disertai dengan cerita yang kuat. Film ini seperti dibuat tanpa tujuan (kecuali untuk menciptakan action yang menjadi porsi utama dari cerita). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda apocalyptic, resensi film, sci-fi | Leave a Comment »
November 2, 2009
Film ini diluncurkan bersamaan dengan Sumpah Pemuda. Dari tanggal peluncurannya saja, kita tentu bisa menangkap makna apa yang mau diusung film ini.
Film ini memang film yang tidak biasa. Ia berani mengambil sebuah posisi yaitu pada sejarah kecil (walaupun fiktif), bukan pada sejarah besar yang memberi pengaruh besar pada perjalanan bangsa. Ia hanya menggambarkan kisah satu orang, namun bagaimanapun, kisah tersebut, meskipun terlihat sepele sangatlah berarti pada orang tersebut.
Ia dengan berani membuat film dengan dua plot, masa lalu dan masa kini, yang dijalankan secara paralel. Ini adalah sebuah teknik yang sulit. Secara ide cerita, saya rasa ini sudah oke banget. Di sini terlihat kepiawaian Ayu Utami sebagai seorang penulis yang sudah makan asam garam. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda film indonesia, resensi film | 2 Komentar »
November 2, 2009
Jarang ada sebuah film atau cerita yang mencoba membuat interpretasi ulang terhadap sebuah legenda. Film ini adalah salah satunya. Sayangnya penggarapannya tidak terlalu total sehingga menjadi serba tanggung.
Film ini mencoba menghubungkan kekaisaran Romawi dengan legenda Raja Arthur. Ia memulainya dengan tumbangnya kerajaan Romawi Barat oleh suku Goth, kisah pelarian kaisar terakhirnya sampai ke Inggris, dan bagaimana mereka akhirnya mereka meletakkan dasar bagi Arthur di Inggris. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, resensi film | Leave a Comment »
Oktober 28, 2009
Quentin Tarantino kembali bikin gara-gara. Kali ini dengan film Inglourious Basterds, sebuah film dengan ejaan aneh, yang mirip dengan sebuah film yang dirilis tahun 1978 dengan judul Inglorious Bastard (dengan ejaan yang benar). Mungkin film ini adalah sebuah film dedikasi kepada film pendahulunya, tapi saya belum sempat mengeceknya.
Film ini sungguh unik. Di satu pihak kita disuguhkan oleh kehebatan sebuah pasukan paramiliter yang bergerak di bawah tanah secara gerilya. Namun di pihak lain, ia menyuguhkan sebuah film yang penuh dengan rencana yang gagal dan juga absurditas, tanpa jatuh menjadi sebuah film komedi. Di sinilah letak kejeniusan Quentin Tarantino sebagai penulis sekaligus sutradara film ini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, quentin tarantino, resensi film | 4 Komentar »
Oktober 6, 2009
Ini adalah salah satu film sci-fi paling buruk yang pernah kutonton. Sebenarnya mungkin film ini tidak buruk2 amat, tapi karena sci-fi adalah sebuah genre yang pakai otak, sebuah film yang tidak memakai otak di dalam genre ini menjadi tak termaafkan.
Film ini sebenarnya dimulai dengan premis yang menjanjikan. Andaikan seluruh hidup kita bisa digantikan dengan robot (a.k.a Surrogate), kita dengan enak hanya tinggal di rumah. Ini semacam menyindir kehidupan modern sekarang di mana orang bisa berhubungan satu sama lain dengan avatar (lewat facebook, YM, BB, dll). Begitu pula dengan game online dimana kita seolah2 memiliki hidup “yang lain”, dan di sana kita bisa menjadi siapa saja. Bayangkan kalau seluruh hidup anda dilakukan seperti itu, ibarat anda main game online, masuk ke dalam dunia The Sims Online (atau yang lebih canggih Second Life), 24 jam sehari. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda resensi film, sci-fi | 2 Komentar »
September 16, 2009
Hollywood sebenarnya sudah mati ide. Sudah lama tidak ada komedi baru, semenjak era Nora Ephron yang merajai komedi romantis ala When Harry Met Sally, Sleepless in Seattle, lalu diteruskan oleh era komedi “menjurus” Farelly Brothers ala There’s Something About Mary, lalu komedi jorok ala American Pie, dan yang paling parah adalah komedi parodi Wayans Brothers dari Scary Movie (yang sebenarnya lumayan menyegarkan) sampai Disaster Movie yang bikin muntah. Setelah itu praktis semua komedi mirip2, gak ada inovasi baru. Kehadiran Hangover, menjadi menyegarkan karena yang ditawarkan adalah sebuah format komedi yang berbeda, di tengah penyakit sequel dan franchise.
Ia sebenarnya masuk dari komedi romantis, namun kemudian berbelok tajam meninggalkan genre itu sama sekali. Jalan ceritanya menjadi sulit ditebak dan hal yang baru muncul di tengah tikungan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda komedi, resensi film | Leave a Comment »
September 15, 2009
Film ini bukan film perang biasa, mengikuti tradisi film Apocalypse Now dan Full Metal Jacket. Ia tidak meletakkan perang sebagai sebuah heroisme. Ia tidak menentukan tokoh secara hitam putih, mana penjahat dan mana jagoan. Ia bahkan tidak memberikan sebuah jalan cerita, melainkan hanya beralih dari satu penjinakan bom ke penjinakan bom lainnya.
Tapi justru itulah yang ditawarkan film ini, sebuah keseharian dari para penjinak bom, yang menghitung hari, yaitu 40 hari sebelum bisa beristirahat dan dirotasi ke tempat lain. Sebuah hidup menghitung hari, yang selalu bergulat dengan maut, yang bisa menjemput setiap saat. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, film perang, resensi film | Leave a Comment »
September 8, 2009
Akhirnya, sebuah film Indonesia yang memenuhi seluruh ekspektasi saya, dan lahir dari para sineas2 independen dari Bandung. Saya memang agak terlambat tahu adanya film ini mengingat liputannya yang terbatas dan juga diputar terbatas (hanya di blitz megaplex).
Film ini sungguh dibuat oleh para pecinta film, yang mengejar kesempurnaan, bukan komersialisasi film. Terlihat sekali jejak2 cinta para pembuatnya di dalam film ini.
Secara tema, film ini luar biasa, ia berani mengangkat sesuatu yang tabu, cinta antara dua insan berbeda agama, yang sebenarnya semua orang tahu, tapi tak ada yang memilih untuk membicarakannya. Ia juga tidak memberikan penilaian yang klise seperti yang biasa kita lihat, melainkan mencoba menggali masalah ini secara lebih dalam, namun tetap ringan dan tidak terlalu filosofis sehingga memberatkan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda cinta, film indonesia, resensi film, romance | 4 Komentar »
Agustus 31, 2009
Film ini cukup mengundang dengan memasang nama Peter Jackson, walaupun hanya sebagai produser. Trailernya pun cukup mengundang, dengan gaya mockumentary. Tampilan Tapi apakah filmnya benar sebagus itu?
Film ini dibuat dengan gaya dokumenter dengan sudut pandang seorang tokoh bernama Wikus van de Merwe, seorang pekerja badan MNU, semacam badan pengelola refugee alien gitu. Alien digambarkan tiba2 sudah ada dibumi tanpa prolog. Bagi beberapa penonton mungkin ini mengganggu, tapi buatku itu sah2 saja mengingat bukan itu yang menjadi fokus cerita melainkan bagaimana manusia bisa menerima kedatangan makhluk asing di hadapan mereka. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, district 9, resensi film, sci-fi | 3 Komentar »
Agustus 17, 2009
Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah dirobeknya Indonesia oleh terorisme. Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah komersialisasi film nasional. Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah trend haru biru film islami romantis. Aku benar2 mendambakan sebuah film perang pengobar nasionalisme, di tengah film setan dan penebar syahwat tanpa otak. Dan semua harapan itu aku tumpukkan pada film ini, MERAH PUTIH. Mungkin harapanku terlalu besar dan aku kecewa.
Harapanku, dengan budget yang katanya 60 milyar, dan kru dari negeri paman Sam, paling tidak film ini bisa menyamai film seperti Tjoet Nja’ Dhien, atau November 1828. Semua itu jauh panggang dari api. Film ini dengan semua kemewahan budget dan teknologinya, sekedar menjadi film perang murahan dengan budget B-movie.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, film indonesia, film perang, merah putih, resensi film | 8 Komentar »