November 26, 2009
Jiffest 2009 akhirnya datang juga. Entah mengapa kok kurang terasa gegap gempitanya yah. Mungkin karena Jiffest kali ini cuma diselenggarakan di satu venue yaitu Blitz Megaplex Grand Indonesia. Kali ini dimulai tanggal 4 Desember dan berakhir tanggal 12 Desember. Lengkapnya lihat saja di websitenya http://jiffest.org
Festival kali ini akan dibuka dengan film terbarunya Riri Riza – Sang Pemimpi yang diambil dari tetraloginya Andrea Hirata, cuma ini untuk invitation only. Festival ditutup dengan New York I Love yang (sayangnya) juga invitation only.
Festival juga dimeriahkan oleh film2 Indonesia yang dirilis tahun ini dan bisa ditonton secara gratis! Beberapa film Indonesia yang layak dapat sorotan adalah Under the Tree, Pintu Terlarang, Jermal, Garuda di Dadaku, 3 Doa 3 Cinta dan Cin(t)a. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Festival | Bertanda festival film, jiffest | Leave a Comment »
November 25, 2009
Film ini dirilis terbatas di Indonesia, hanya di Blitz Megaplex dan kemudian dirilis dalam bentuk VCD/DVD oleh Jive Collection. Aku menontonnya dalam format VCD.
Film ini adalah sebuah film dengan latar perang salib, meskipun sebenarnya perang salib hanya memakan sepertiga bagian dari film ini, dan bukan merupakan bagian utama. Ceritanya adalah tentang putra seorang bangsawan Swedia, Arn Magnusson, yang karena sesuatu dan lain hal akhirnya terdampar di Jerusalem sebagai seorang Knight Templar, dan kemudian pulang kembali ke kampung halamannya setelah selamat dalam pembantaian di pertempuran Hattin. Ia sendiri diambil dari sebuah novel trilogi karangan Jan Guillou. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, film sejarah | Leave a Comment »
November 25, 2009
Saya terlambat nonton film ini, namun rupanya keterlambatan ini membawa hikmah. Film ini akhirnya saya tonton dalam format VCD keluar Jive Collection, dan tanpa sensor! Denger2 sih di bioskop ada dua adegan yang disensor, yaitu adegan potong leher dan marital rape. Keduanya ada di dalam format VCD. Mengenai sensor menyensor bisa dilihat di sini.
Oke, sekarang tentang filmnya. Film ini dibuat berdasarkan novelnya Sekar Ayu Asmara. Aku pertama mengenal karyanya lewat Biola tak Berdawai, dan Belahan Jiwa. Biola tak Berdawai bagus, tapi untuk genre thriller seperti Belahan Jiwa, karya Sekar sekedar kunilai lumayan, gak jelek2 amat. Makanya aku tidak terlalu berharap dengan Pintu Terlarang yang juga bergenre thriller. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda film indonesia, resensi film, thriller | 9 Komentar »
November 11, 2009
Film ini memasang label yang pendek sekali, sehingga membuat kita bertanya-tanya tentang apa isinya. 9, itu saja. Namun dalam beberapa adegan awal, 9 tidak lagi menjadi sebuah magic label, karena sudah terjelaskan, meskipun kesimpulan akhirnya (yang agak mengecewakan tetap dipasang di akhir cerita).
9 adalah cerita tentang 9 makhluk (yang tidak jelas makhluk apaan) di tengah dunia pos-apokaliptik dimana tidak ada satu pun manusia (dan kayaknya binatang juga) tersisa, menyisakan mesin-mesin otonom yang menjelahi dunia yang hancur.
Gambar-gambarnya terus terang cukup menawan. Hanya saja gambarnya tidak disertai dengan cerita yang kuat. Film ini seperti dibuat tanpa tujuan (kecuali untuk menciptakan action yang menjadi porsi utama dari cerita). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda apocalyptic, resensi film, sci-fi | 6 Komentar »
November 2, 2009
Film ini diluncurkan bersamaan dengan Sumpah Pemuda. Dari tanggal peluncurannya saja, kita tentu bisa menangkap makna apa yang mau diusung film ini.
Film ini memang film yang tidak biasa. Ia berani mengambil sebuah posisi yaitu pada sejarah kecil (walaupun fiktif), bukan pada sejarah besar yang memberi pengaruh besar pada perjalanan bangsa. Ia hanya menggambarkan kisah satu orang, namun bagaimanapun, kisah tersebut, meskipun terlihat sepele sangatlah berarti pada orang tersebut.
Ia dengan berani membuat film dengan dua plot, masa lalu dan masa kini, yang dijalankan secara paralel. Ini adalah sebuah teknik yang sulit. Secara ide cerita, saya rasa ini sudah oke banget. Di sini terlihat kepiawaian Ayu Utami sebagai seorang penulis yang sudah makan asam garam. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda film indonesia, resensi film | 2 Komentar »
November 2, 2009
Jarang ada sebuah film atau cerita yang mencoba membuat interpretasi ulang terhadap sebuah legenda. Film ini adalah salah satunya. Sayangnya penggarapannya tidak terlalu total sehingga menjadi serba tanggung.
Film ini mencoba menghubungkan kekaisaran Romawi dengan legenda Raja Arthur. Ia memulainya dengan tumbangnya kerajaan Romawi Barat oleh suku Goth, kisah pelarian kaisar terakhirnya sampai ke Inggris, dan bagaimana mereka akhirnya mereka meletakkan dasar bagi Arthur di Inggris. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, resensi film | Leave a Comment »
Oktober 28, 2009
Quentin Tarantino kembali bikin gara-gara. Kali ini dengan film Inglourious Basterds, sebuah film dengan ejaan aneh, yang mirip dengan sebuah film yang dirilis tahun 1978 dengan judul Inglorious Bastard (dengan ejaan yang benar). Mungkin film ini adalah sebuah film dedikasi kepada film pendahulunya, tapi saya belum sempat mengeceknya.
Film ini sungguh unik. Di satu pihak kita disuguhkan oleh kehebatan sebuah pasukan paramiliter yang bergerak di bawah tanah secara gerilya. Namun di pihak lain, ia menyuguhkan sebuah film yang penuh dengan rencana yang gagal dan juga absurditas, tanpa jatuh menjadi sebuah film komedi. Di sinilah letak kejeniusan Quentin Tarantino sebagai penulis sekaligus sutradara film ini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, quentin tarantino, resensi film | 5 Komentar »
Oktober 6, 2009
Ini adalah salah satu film sci-fi paling buruk yang pernah kutonton. Sebenarnya mungkin film ini tidak buruk2 amat, tapi karena sci-fi adalah sebuah genre yang pakai otak, sebuah film yang tidak memakai otak di dalam genre ini menjadi tak termaafkan.
Film ini sebenarnya dimulai dengan premis yang menjanjikan. Andaikan seluruh hidup kita bisa digantikan dengan robot (a.k.a Surrogate), kita dengan enak hanya tinggal di rumah. Ini semacam menyindir kehidupan modern sekarang di mana orang bisa berhubungan satu sama lain dengan avatar (lewat facebook, YM, BB, dll). Begitu pula dengan game online dimana kita seolah2 memiliki hidup “yang lain”, dan di sana kita bisa menjadi siapa saja. Bayangkan kalau seluruh hidup anda dilakukan seperti itu, ibarat anda main game online, masuk ke dalam dunia The Sims Online (atau yang lebih canggih Second Life), 24 jam sehari. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda resensi film, sci-fi | 2 Komentar »
September 16, 2009
Hollywood sebenarnya sudah mati ide. Sudah lama tidak ada komedi baru, semenjak era Nora Ephron yang merajai komedi romantis ala When Harry Met Sally, Sleepless in Seattle, lalu diteruskan oleh era komedi “menjurus” Farelly Brothers ala There’s Something About Mary, lalu komedi jorok ala American Pie, dan yang paling parah adalah komedi parodi Wayans Brothers dari Scary Movie (yang sebenarnya lumayan menyegarkan) sampai Disaster Movie yang bikin muntah. Setelah itu praktis semua komedi mirip2, gak ada inovasi baru. Kehadiran Hangover, menjadi menyegarkan karena yang ditawarkan adalah sebuah format komedi yang berbeda, di tengah penyakit sequel dan franchise.
Ia sebenarnya masuk dari komedi romantis, namun kemudian berbelok tajam meninggalkan genre itu sama sekali. Jalan ceritanya menjadi sulit ditebak dan hal yang baru muncul di tengah tikungan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda komedi, resensi film | Leave a Comment »
September 15, 2009
Film ini bukan film perang biasa, mengikuti tradisi film Apocalypse Now dan Full Metal Jacket. Ia tidak meletakkan perang sebagai sebuah heroisme. Ia tidak menentukan tokoh secara hitam putih, mana penjahat dan mana jagoan. Ia bahkan tidak memberikan sebuah jalan cerita, melainkan hanya beralih dari satu penjinakan bom ke penjinakan bom lainnya.
Tapi justru itulah yang ditawarkan film ini, sebuah keseharian dari para penjinak bom, yang menghitung hari, yaitu 40 hari sebelum bisa beristirahat dan dirotasi ke tempat lain. Sebuah hidup menghitung hari, yang selalu bergulat dengan maut, yang bisa menjemput setiap saat. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Film | Bertanda action, film perang, resensi film | Leave a Comment »