Aku sebenarnya berharap banyak dari film ini. Pertama, film ini lahir dari PH Kalyana Shira yang selama ini belum pernah mengecewakanku. Lihat saja film2 keluaran mereka yang gila seperti Quickie Express. Begitu pula film seperti Janji Joni, Arisan, dan Berbagi Suami. Semuanya tidak ada yang mengecewakan. Jadi paling tidak aku mengharapkan film komedi sekelas Quickie Express, dan rada2 saru gitu. Kedua, film2 Kalyana Shira selalu mengusung ide-ide maju yang menarik untuk disimak. Sayangnya, harapanku ternyata berlebihan. Ini adalah film terburuk dari Kalyana Shira.
Ide film ini sebenarnya cukup menarik, begitu pula tema yang diusungnya. Ia mengangkat kaum minoritas yaitu kaum transgender yang sering dianggap sampah masyarakat sehingga harus disingkirkan. Film ini temanya terasa menggigit di tengah maraknya fundamentalisme ingin memaksakan pandangan satu agama kepada seluruh sendi kehidupan. Baca entri selengkapnya »

Film ini adalah sebuah film yang unik, yang terus terang tidak begitu terlihat dari iklannya. Karena melihat Project Pop kita tentunya akan mengira bahwa film ini adalah sebuah film komedi parodi. Yang tidak saya duga, film ini ternyata juga adalah sebuah film musikal, yang merupakan salah satu core competence dari Project Pop juga. Dan ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan.
Aku menonton film ini tanpa tahu menahu apa isi film ini kecuali dari posternya saja. Kupikir film perang biasa. Ternyata film cerita keluarga kerajaan korea yang dibalut kisah cinta homoseksual. Mati terkejutlah aku!
Cukup aneh sebetulnya film ini kurang mendapat sambutan meriah di Indonesia. Mungkin karena ia hanya diputar secara terbatas di jaringan Blitz Megaplex.
Untung aku tidak menonton film ini di bioskop, kalau tidak mungkin aku sudah nyumpah2. Film ini adalah salah satu film Indonesia terburuk yang pernah kutonton. Kalau aku nonton film picisan seperti Pocong Malam Jumat, Pocong Hamil, atau Pocong Beranak, mungkin aku gak nyumpah2 karena sudah bisa mengharapkan apa yang akan kutonton, namun film ini dengan membawa nama besar Ikatan Alumni ITB sebagai sponsor plus nama besar Sudjiwo Tedjo, film ini benar-benar mengecewakan.
What is the hottest movie in town? Kemungkinan besar adalah film ini. Sayang peredarannya terbatas hanya di jaringan Blitz. Penontonnya pun gak sembludak antrian Harry Potter, atau Ketika Cinta Bertasbih. Tapi percayalah, kemungkinan ini adalah film terbaik yang bisa anda tonton tahun ini.
Di tengah maraknya gerakan fundamentalisme agama di seluruh dunia, mungkin film ini layak disimak. Film ini adalah sebuah film dokumenter yang dibuat seorang pelawak ateis, Bill Maher. Di dalam film ini ia ingin menunjukkan betapa “lucunya” manusia yang masih mempercayai agama yang menurutnya merupakan produk ketinggalan jaman, dan harus ditinggalkan kalau manusia ingin maju.
Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya,
Ya. Ini adalah sebuah kisah cinta. Cinta yang indah di awal namun berakhir dengan sebuah tragedi. Namanya kapitalisme.